4 pilar iman yaiuuh sabar,yakin,keadilah dan jihad.
Sabar memiliki 4 cabang yaituh rindu,takut,zuhud dan antisipasi.Barangsiapa yg rindu pada surga,dia akan melupakan segala godaan hawa nafsu dan barangsiapa yg takut neraka dia akan meningalkan segala yg diharamkan.Brangsiapa zuhud didunia dia akan menganggap ringan semua musibah.Barangsiapa yg mengantisipasi kematian dia akan bergegas melakukan amal amal.
4 Cabang Yakin yaituh memandang sgl sesuatu dgn ketajaman pemikiran,menafsirkan dgn hikmah,menjadikan pelajaran sebagai nasehat,sunnah orang2 terdahulu.Brangsiapa yg memandang sgl sesuatu dgn ketajaman fikiran,akan jelaslah baginya hikmah.Brangsiapa yg jelas hikmah dia akan mengenal pelajaran seakan2 dia termasuk orang2 terdahulu.
4 Cabang Keadilan yaituh menyelami pemahaman,mendalami ilmu,mengetahui intisari hukum,kukuh dalam kesabaran.Brangsiapa yg faham dia akan mengetahui kedalaman ilmu.Brngsiapa yg telah mengetahui kedalaman ilmu,tak akan keluar dr syariat2 hukum.Brngsiapa yg bersabar,dia tak akan melampaui batas dalam semua hal.
4 Cabang Jihad yaituh mengajak pada kebaikan,mencegah kemungkaran,lurus dlm tiap keadaan dan membenci orang fasik.
4 Pilar Kekufuran yaituh introgasi,pertentangan,penyimpangan dan perpecahan.Barangsiapa mengingtrogasi berlebihan dia tak akan sampai pada kebenaran.Brangsiapa banyak pertentangan dgn kebodohan dia senangtiasa berada dlm kesesatan.Brangsiapa yg menyimpang kebaikan akan buruk dimatanya,brangsiapa yg terpecah akan sulit urusanya dan sempit jalan keluarnya.
4 Cabang Keraguan yaituh saling bermusuhan,ketakutan,bimbang dan pasrah.
Iman adalah ma'rifat dgn hati,pengakuan dgn lidah dan tindakan anggota tubuh.Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda "Tahukah kalian siapakah org yg paling dahulu mendapatkan naungan Allah? Mereka adalah orang2 yg dberi kewajiban,mereka menerimanya dan apabila diminta menunaikan kewajiban itu,mereka memberikan serta memutuskan perkara orang2 lain sebagaimana mereka memutuskan terhada dirinya sendiri" (Hr.Ahmad).
"Seorang mukmin yg paling utama islamnya ialah terselamatkanya orang2 muslim lain dr lisan dan tanganya.Orang mukmin yg paling utama imannya ialah yg paling baik ahlaknya,muhajjir yg palng utama ialah yg menjauhi hal2 yg diharamkam,jihad palng utama melawan hawa nafsu"(Hr.Thabrani).
Sesungguhnya yang sebenar benar orang mukmin ialah orang orang yg beriman kepada Allah dan RasulNYA (An Nuur 62). Sesungguhnya orang2 yg beriman itu adalah mereka apabila disebut nama Allah gemetarlah hatinya dan apabila dibacakan kepada mereka ayat2Nya bertambah keimanannya karnanya (Al Anfaal 2).
Jika ingn menjadi mukmin yg sebenarnya jagalah lisan,karna tiap kata harus dibuktikan dalam perbuatan.Keburukan kata2 merupakan keburukan hati,maka pergunakanlah waktu dgn sesuatu yg berharga karna masa yg dilewati tanpa dzikir merupakan masa penyesalan di akhirat.
Kehidupan seorang mukmi bagaikan matahari kehidupanya selalu bersinar .Karna orang mukmin adalah orang yg menginginkan kebaikan dan selalu memohon dikaruniai ketaatan,rela dan syukur atas segalanya.Pendalaman hukum2 agama (fiqih).Tiap manusia mempunyai cela dan kebusukan yg andaikata diketahui orang lain maka mereka akan membecinya akan tetapi karna Allah menutupinya.Untuk itu seharusnya kita mengembalikan pujian kepadaNYA yg menutup aib aib manusia.
Allah menjanjikan kpd orang2 mukmin lelaki dan wanita akan mendapat surga yg dibawahnya mengalir sungai2 kekal mereka didalamnya dan mendapat tempat2 yg bagus di surga 'Adn.Dan keridhoan Allah Lebih besar itu adalah keberuntungan yg besar(At Taubah 72)
Sabtu, 24 April 2010
MENGHAYATI SIFAT WUDHU’ RASULULLAH DENGAN DALIL YANG SAHIH
engertian Wudhu’
Menurut bahasa, kalimah wudhu’ apabila dibaca dengan (أَلْوُضُوْءُ) iaitu dengan didhammahkan huruf wawnya, ia bermaksud perbuatan berwudhu’. Dan apabila difathahkan wawnya, maka (أَلْوَضُوْءُ) ia bermaksud air wudhu’.
Wudhu’ menurut syara ialah: Menggunakan air bersih (suci lagi mensucikan) untuk membasuh anggota-anggota tertentu yang telah ditetapkan oleh syara.
Berwudhu’ untuk solat adalah merupakan perintah dari Allah Azza wa-Jalla sebagaimana firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu akan mendirikan solat maka basuhlah muka kamu dan tangan-tangan kamu hingga siku-siku kamu dan sapulah kepala kamu serta (basuhlah) kaki-kaki kamu sehingga ke kedua mata kaki!”. (Surah al-Ma’idah, 5: 6)
Tidak sah solat seseorang tanpa bersuci atau berwudhu’ terlebih dahulu, sebagaimana perintah dan penjelasan dari hadis-hadis yang sahih:
“Tidak ada solat bagi orang yang tidak berwudhu’.” (H/R Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah)
“Allah tidak menerima solat tanpa bersuci (berwudhu’)”. (H/R Muslim, 1/60)
“Tidak diterima solat seseorang antara kamu jika berhadas sehinggalah dia berwudhu’”. (H/R Bukhari, 1/206. Muslim, No. 225)
“Sesungguhnya aku diperintah agar berwudhu’ apabila aku ingin mendirikan solat”. (H/R Abu Daud, no. 3760. Disahihkan oleh al-Albani, Lihat: as-Sahihah)
Fadhilat Berwudhu’
1 – Sebahagian Dari Iman
Diriwayatkan daripada Abu Malik al-Ash’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Bersuci itu adalah sebahagian daripada iman...” (H/R. Muslim, no. 223)
2 – Wudhu’ Yang Sempurna Menghapuskan Dosa
Pengambilan wudhu’ yang sempurna bukan sahaja menjamin diterimnya solat tetapi ianya juga dapat menghapuskan dosa-dosa selagi tidak melakukan kesyirikan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: Apabila seseorang hamba muslim atau mukmin berwudhu’ maka setelah ia membasuh wajahnya, keluarlah dari wajahnya segala dosa yang telah dilihat oleh kedua matanya melalui air atau bersama titisan air yang terakhir. Ketika membasuh kedua tangannya keluarlah dari kedua tangannya setiap dosa yang telah dilakukan oleh kedua tangannya bersama air atau bersama titisan air yang terakhir. Sewaktu ia membasuh kedua belah kakinya, keluarlah dari kedua kakinya setiap dosa yang dilangkah oleh kedua kakinya bersama air atau bersama air terakhir sehinggalah setelah ia selesai berwudhu’ ia bersih dari dosa-dosanya”. (H/R. Muslim, 1/148)
“Barangsiapa yang berwudhu’ seperti ini (seperti wudhu’nya Rasulullah), diampunkan dosa-dosanya yang telah berlalu dan solat serta perjalanannya ke masjid adalah dipenuhi pahala”. (H/R. Muslim, 3/113)
“Dari Abi Umamah radiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang muslim berwudhu’ maka akan keluar dosa-dosanya dari pendengarannya (telinganya), matanya, tangannya dan dari kedua kakinya. Apabila ia duduk menanti solat, ia duduk dalam keampunan (diampunkan) dosa-dosanya”. (H/R. Ahmad, 5/252. Hadis Hasan: Lihat Jami’ as-Saghir, No. 461)
3 – Wudhu’ Mengangkat Darjat Manusia
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda: Sukakah kamu semua sekiranya aku tunjukkan kepada kalian akan amalan yang dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan dan mengangkat beberapa darjat kalian? Mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah”. Maka Baginda Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun bersabda: “Iaitu (antaranya) menyempurnakan wudhu’ walaupun dalam keadaan yang tidak disenangi (seperti kesejukan dan sebagainya)…” (H/R. Muslim, no: 253)
4 – Wudhu’ Dapat Membuka Pintu Ke Syurga
Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Tiada seorang pun dari kalian yang berwudhu’, lalu ia menyampaikan atau meratakan wudhu’nya, kemudian dia mengucapkan: “Asyhadu alla ilaha illallah wa anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuluh”, melainkan dibukalah untuknya pintu syurga yang lapan, dia boleh memasuki dari pintu mana pun yang dia kehendaki.” (H/R. Muslim, no: 234)
5 – Wudhu’ Memberi Cahaya Di Akhirat
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda:
“Perhiasan-perhiasan di syurga itu sampai di tubuh seorang mukmin, bersesuaian dengan anggota yang dicapai oleh wudhu’.” (H/R. Muslim, no: 250)
6 – Wudhu’ Dapat Membuka Ikatan Syaitan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bahawa syaitan mengikut manusia ketika tidur di malam hari, dengan tiga ikatan. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberitahu cara untuk merungkai ikatan tersebut, dalam sabda Baginda Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
“…sekiranya dia (manusia) bangun (dari tidurnya), dan mengingati Allah, bebaslah satu ikatan. Sekiranya dia berwudhu’ pula, bebaslah satu ikatan lagi, dan sekiranya dia bersolat, bebaslah satu ikatan lagi. Maka dia akan menjadi segar dan baik dirinya. Sekiranya dia tidak melakukannya (berzikir, wudhu’, dan bersolat), maka dia akan menjadi buruk dan pemalas”. (H/R. al-Bukhari, no: 1091)
Perkara-perkara Sunnah (Yang Dituntut) Dalam Berwudhu'
1 - Menggosok-gosok Anggota Badan
Sebagaimana hadis Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu:
“Sesungguhnya telah dibawa kepada Nabi Nabi Shallallahu ‘alaihi tiga mud (cupak) air, maka Nabi telah berwudhu’ dan menggosok-gosok kedua tangannya.” (H/R. Ibnu Hibban, no: 1083)
2 – Meluaskan (Melebihkan) Kawasan Basuhan
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Sesungguhnya, umatku akan dipanggil pada hari kiamat kelak dalam keadaan putih (pada dahi) dan bercahaya (pada anggota) kerana kesan-kesan wudhuk. Maka barangsiapa yang mampu melebarkan warna putihnya, maka lakukanlah.” (HR. Al-Bukhari, no: 136)
3 – Tidak Membazir (Berlebih-lebihan) Dalam Berwudhu’
“Sesungguhnya orang-orang yang membazir itu adalah saudara syaitan...” (al-Israa’ 17: 27)
“Sesungguhnya akan ada di kalangan umat ini, satu kaum yang berlebih-lebihan dalam bersuci dan berdoa.” (H/R. Abu Daud, no: 96, lihat: Sahih Sunan Abi Daud, 1/21)
Imam al-Bukhari (w. 256H) telah berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menerangkan bahawa wudhu’ difardhukan (basuhannya) sekali, dua kali, dan tiga kali, dan tidak lebih dari tiga kali, dan Ahli Ilmu membenci berlebih-lebihan dalam berwudhu’ dan melebihi (bilangan) yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam”. (Sahih al-Bukhari, 1/62)
4 – Membasuh Dengan Sekali, Dua, dan Tiga Kali
Dibolehkan membasuh anggota wudhu’ dengan sekali basuhan, dua kali dua kali dan tiga kali tiga kali, tetapi tidak dibolehkan membasuh sehingga empat kali. Sepakat ulama bahawa membasuh sekali hukumnya wajib. Sementara membasuh dua kali dan tiga kali adalah sunnah. (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 1/229) Kecuali kepala dan telinga hanya diusap sekali (dan hukumnya bid’ah jika diusap melebihi sekali) usapan. (Lihat: Bidayatul Mujtahid, 1/13, Tarjih Ibnu Rusyd) Yang paling sempurna ialah mencontohi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan melakukan tiga kali (selain kepala dan telinga). Adapun hadis-hadis yang membolehkan satu kali, dua kali dan tiga kali cucian ialah:
“Dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu berkata: Telah berwudhu’ Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam (dengan membasuh) satu kali, satu kali”. (H/R. al-Bukhari, 1/226)
Ada kalanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membasuh anggota wudhu’nya dua kali, dua kali.
“Dari Abdullah bin Zaid radiyallahu ‘anhu berkata: Bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berwudhu’ (membasuh anggota wudhu’) dengan dua kali, dua kali”. (H/R. al-Bukhari, 1/226)
Ada kalanya baginda membasuh anggota wudhu’ dengan tiga kali, tiga kali:
“Baginda membasuh anggota-anggota wuduknya tiga kali”. (H/R. al-Bukhari)
“Dari Uthman bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berwudhu’ (membasuh anggota wudhu’) tiga kali, tiga kali”. (H/R. Muslim)
“Dari Amr bin Syu’aib radiyallahu ‘anhu dari ayahnya dari datuknya, ia berkata: Telah datang seorang Badwi kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menanyakan permasalahan wudhu’ lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memperlihatkannya tiga kali tiga kali dan baginda bersabda: “Itulah bilangan wudhu’, maka barangsiapa menambah dari itu maka ia telah melakukan keburukan, pelanggaran dan kezaliman”.” (H/R. Ahmad)
5 - Berdoa Setelah Berwudhu’
Berdoa sejurus atau selepas berwudhu’ adalah sebagaimana yang diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
“Dari Umar bin al-Khattab radiyallahu ‘anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: Tiada seorang pun di antara kamu yang berwudhu’ dengan sempurna, kemudian ia mengucapkan:
Menurut bahasa, kalimah wudhu’ apabila dibaca dengan (أَلْوُضُوْءُ) iaitu dengan didhammahkan huruf wawnya, ia bermaksud perbuatan berwudhu’. Dan apabila difathahkan wawnya, maka (أَلْوَضُوْءُ) ia bermaksud air wudhu’.
Wudhu’ menurut syara ialah: Menggunakan air bersih (suci lagi mensucikan) untuk membasuh anggota-anggota tertentu yang telah ditetapkan oleh syara.
Berwudhu’ untuk solat adalah merupakan perintah dari Allah Azza wa-Jalla sebagaimana firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu akan mendirikan solat maka basuhlah muka kamu dan tangan-tangan kamu hingga siku-siku kamu dan sapulah kepala kamu serta (basuhlah) kaki-kaki kamu sehingga ke kedua mata kaki!”. (Surah al-Ma’idah, 5: 6)
Tidak sah solat seseorang tanpa bersuci atau berwudhu’ terlebih dahulu, sebagaimana perintah dan penjelasan dari hadis-hadis yang sahih:
“Tidak ada solat bagi orang yang tidak berwudhu’.” (H/R Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah)
“Allah tidak menerima solat tanpa bersuci (berwudhu’)”. (H/R Muslim, 1/60)
“Tidak diterima solat seseorang antara kamu jika berhadas sehinggalah dia berwudhu’”. (H/R Bukhari, 1/206. Muslim, No. 225)
“Sesungguhnya aku diperintah agar berwudhu’ apabila aku ingin mendirikan solat”. (H/R Abu Daud, no. 3760. Disahihkan oleh al-Albani, Lihat: as-Sahihah)
Fadhilat Berwudhu’
1 – Sebahagian Dari Iman
Diriwayatkan daripada Abu Malik al-Ash’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Bersuci itu adalah sebahagian daripada iman...” (H/R. Muslim, no. 223)
2 – Wudhu’ Yang Sempurna Menghapuskan Dosa
Pengambilan wudhu’ yang sempurna bukan sahaja menjamin diterimnya solat tetapi ianya juga dapat menghapuskan dosa-dosa selagi tidak melakukan kesyirikan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: Apabila seseorang hamba muslim atau mukmin berwudhu’ maka setelah ia membasuh wajahnya, keluarlah dari wajahnya segala dosa yang telah dilihat oleh kedua matanya melalui air atau bersama titisan air yang terakhir. Ketika membasuh kedua tangannya keluarlah dari kedua tangannya setiap dosa yang telah dilakukan oleh kedua tangannya bersama air atau bersama titisan air yang terakhir. Sewaktu ia membasuh kedua belah kakinya, keluarlah dari kedua kakinya setiap dosa yang dilangkah oleh kedua kakinya bersama air atau bersama air terakhir sehinggalah setelah ia selesai berwudhu’ ia bersih dari dosa-dosanya”. (H/R. Muslim, 1/148)
“Barangsiapa yang berwudhu’ seperti ini (seperti wudhu’nya Rasulullah), diampunkan dosa-dosanya yang telah berlalu dan solat serta perjalanannya ke masjid adalah dipenuhi pahala”. (H/R. Muslim, 3/113)
“Dari Abi Umamah radiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang muslim berwudhu’ maka akan keluar dosa-dosanya dari pendengarannya (telinganya), matanya, tangannya dan dari kedua kakinya. Apabila ia duduk menanti solat, ia duduk dalam keampunan (diampunkan) dosa-dosanya”. (H/R. Ahmad, 5/252. Hadis Hasan: Lihat Jami’ as-Saghir, No. 461)
3 – Wudhu’ Mengangkat Darjat Manusia
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda: Sukakah kamu semua sekiranya aku tunjukkan kepada kalian akan amalan yang dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan dan mengangkat beberapa darjat kalian? Mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah”. Maka Baginda Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun bersabda: “Iaitu (antaranya) menyempurnakan wudhu’ walaupun dalam keadaan yang tidak disenangi (seperti kesejukan dan sebagainya)…” (H/R. Muslim, no: 253)
4 – Wudhu’ Dapat Membuka Pintu Ke Syurga
Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Tiada seorang pun dari kalian yang berwudhu’, lalu ia menyampaikan atau meratakan wudhu’nya, kemudian dia mengucapkan: “Asyhadu alla ilaha illallah wa anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuluh”, melainkan dibukalah untuknya pintu syurga yang lapan, dia boleh memasuki dari pintu mana pun yang dia kehendaki.” (H/R. Muslim, no: 234)
5 – Wudhu’ Memberi Cahaya Di Akhirat
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda:
“Perhiasan-perhiasan di syurga itu sampai di tubuh seorang mukmin, bersesuaian dengan anggota yang dicapai oleh wudhu’.” (H/R. Muslim, no: 250)
6 – Wudhu’ Dapat Membuka Ikatan Syaitan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bahawa syaitan mengikut manusia ketika tidur di malam hari, dengan tiga ikatan. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberitahu cara untuk merungkai ikatan tersebut, dalam sabda Baginda Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
“…sekiranya dia (manusia) bangun (dari tidurnya), dan mengingati Allah, bebaslah satu ikatan. Sekiranya dia berwudhu’ pula, bebaslah satu ikatan lagi, dan sekiranya dia bersolat, bebaslah satu ikatan lagi. Maka dia akan menjadi segar dan baik dirinya. Sekiranya dia tidak melakukannya (berzikir, wudhu’, dan bersolat), maka dia akan menjadi buruk dan pemalas”. (H/R. al-Bukhari, no: 1091)
Perkara-perkara Sunnah (Yang Dituntut) Dalam Berwudhu'
1 - Menggosok-gosok Anggota Badan
Sebagaimana hadis Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu:
“Sesungguhnya telah dibawa kepada Nabi Nabi Shallallahu ‘alaihi tiga mud (cupak) air, maka Nabi telah berwudhu’ dan menggosok-gosok kedua tangannya.” (H/R. Ibnu Hibban, no: 1083)
2 – Meluaskan (Melebihkan) Kawasan Basuhan
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Sesungguhnya, umatku akan dipanggil pada hari kiamat kelak dalam keadaan putih (pada dahi) dan bercahaya (pada anggota) kerana kesan-kesan wudhuk. Maka barangsiapa yang mampu melebarkan warna putihnya, maka lakukanlah.” (HR. Al-Bukhari, no: 136)
3 – Tidak Membazir (Berlebih-lebihan) Dalam Berwudhu’
“Sesungguhnya orang-orang yang membazir itu adalah saudara syaitan...” (al-Israa’ 17: 27)
“Sesungguhnya akan ada di kalangan umat ini, satu kaum yang berlebih-lebihan dalam bersuci dan berdoa.” (H/R. Abu Daud, no: 96, lihat: Sahih Sunan Abi Daud, 1/21)
Imam al-Bukhari (w. 256H) telah berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menerangkan bahawa wudhu’ difardhukan (basuhannya) sekali, dua kali, dan tiga kali, dan tidak lebih dari tiga kali, dan Ahli Ilmu membenci berlebih-lebihan dalam berwudhu’ dan melebihi (bilangan) yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam”. (Sahih al-Bukhari, 1/62)
4 – Membasuh Dengan Sekali, Dua, dan Tiga Kali
Dibolehkan membasuh anggota wudhu’ dengan sekali basuhan, dua kali dua kali dan tiga kali tiga kali, tetapi tidak dibolehkan membasuh sehingga empat kali. Sepakat ulama bahawa membasuh sekali hukumnya wajib. Sementara membasuh dua kali dan tiga kali adalah sunnah. (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 1/229) Kecuali kepala dan telinga hanya diusap sekali (dan hukumnya bid’ah jika diusap melebihi sekali) usapan. (Lihat: Bidayatul Mujtahid, 1/13, Tarjih Ibnu Rusyd) Yang paling sempurna ialah mencontohi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan melakukan tiga kali (selain kepala dan telinga). Adapun hadis-hadis yang membolehkan satu kali, dua kali dan tiga kali cucian ialah:
“Dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu berkata: Telah berwudhu’ Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam (dengan membasuh) satu kali, satu kali”. (H/R. al-Bukhari, 1/226)
Ada kalanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membasuh anggota wudhu’nya dua kali, dua kali.
“Dari Abdullah bin Zaid radiyallahu ‘anhu berkata: Bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berwudhu’ (membasuh anggota wudhu’) dengan dua kali, dua kali”. (H/R. al-Bukhari, 1/226)
Ada kalanya baginda membasuh anggota wudhu’ dengan tiga kali, tiga kali:
“Baginda membasuh anggota-anggota wuduknya tiga kali”. (H/R. al-Bukhari)
“Dari Uthman bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berwudhu’ (membasuh anggota wudhu’) tiga kali, tiga kali”. (H/R. Muslim)
“Dari Amr bin Syu’aib radiyallahu ‘anhu dari ayahnya dari datuknya, ia berkata: Telah datang seorang Badwi kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menanyakan permasalahan wudhu’ lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memperlihatkannya tiga kali tiga kali dan baginda bersabda: “Itulah bilangan wudhu’, maka barangsiapa menambah dari itu maka ia telah melakukan keburukan, pelanggaran dan kezaliman”.” (H/R. Ahmad)
5 - Berdoa Setelah Berwudhu’
Berdoa sejurus atau selepas berwudhu’ adalah sebagaimana yang diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
“Dari Umar bin al-Khattab radiyallahu ‘anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: Tiada seorang pun di antara kamu yang berwudhu’ dengan sempurna, kemudian ia mengucapkan:
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ ، وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
pasti (yang membaca doa di atas ini) akan dibukakan baginya kelapan-lapan pintu syurga, dia boleh masuk dari mana yang dia kehendaki”. (H/R. Muslim No. 234)
Pada hadis riwayat Imam at-Tirmizi terdapat penambahan di hujungnya, iaitu:
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
“Ya Allah, jadikanlah aku golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku golongan orang-orang yang membersihkan diri!” (Sahih: Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi)
“Dari Abi Sa’ied al-Khudri radiyallahu ‘anhu berkata: Telah bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: Sesiapa yang berwudhu’ kemudian setelah selesai darinya dia membaca:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ اَللَّهُمَّ وَأَتُوْبُ اِلَيْكَ
Maka (dengan membaca doa ini) dituliskan di tempat tulisan, kemudian terpelihara dalam lambaran, maka tidak akan binasa sehingga ke hari kiamat”. (Sahih: Lihat: al-Jami’, no. 6046)
Tatacara/Sifat Wudhu’ Yang Sunnah (Sahih)
1 - Berniat
Maksud niat ialah menyengajakan atau bersungguh-sungguh untuk mengerjakan sesuatu kerana menunaikan perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Tempat niat itu di hati, bukan di lisan sebagaimana yang disepakati oleh para imam kaum Muslimin, sama ada pada ibadah, taharah, solat, zakat, puasa, haji, membebaskan hamba, jihad dan selainnya. Jika diucapkan dengan lisannya tetapi berlainan dengan kehendak hatinya maka yang diterima hanya yang diniatkan oleh hatinya bukan lafaznya. Sebaliknya jika diucapkan niat dengan lisannya sedangkan berlainan dengan niat yang di hatinya maka ia tidak diterima menurut kesepakatan Imam-Imam Muslimin”. (Lihat: Majmu’ ar-Rasail al-Kubra, 1/234)
Setiap amal ibadah dituntut agar dimulakan dengan niat sebagaimana sabda Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
“Setiap amal itu dimulakan dengan niat, sesungguhnya bagi setiap insan mengikut apa yang diniatkan”. (H/R al-Bukhari, 1/9)
2 - Membaca Basmalah (bismillah)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memerintahkan agar membaca basmalah (bismillah) di setiap kali hendak berwudhu’. Baginda bersabda:
“Tiada wudhu’ bagi sesiapa yang tidak menyebut nama Allah di atas wudhu’nya”. (H/R at-Tirmizi, 26. Disahihkan oleh al-Albani dalam al-Jami’ 7444)
Diketika kekurangan air, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah meminta air untuk berwudhu’ maka setelah memperolehi air, baginda memasukkan tangannya ke dalam air tersebut. Baginda memerintahkan para sahabat agar membaca basmalah ketika hendak berwudhu’:
“Semasa Rasulullah meletakkan tangannya di dalam air, baginda bersabda: Berwudhu’lah kamu sekalian dengan nama Allah. Maka aku melihat air keluar dari celah-celah jari-jemari baginda sehinggalah orang yang terakhir (dapat berwudhu’). Thabit bertanya (kepada Anas): Berapa jumlah mereka? Sekitar tujuh puluh orang (jawab Anas)”. (H/R al-Bukhari, 1/236)
Telah dijelaskan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah, bahawa berdasarkan hadis-hadis di atas maka menurut Imam Ahmad rahimahullah membaca bismillah ketika hendak berwudhu’, hendak mandi dan bertayamum adalah wajib hukumnya. Al-Hasan al-Basri dan Ishaq bin Rahawaih serta ramai para imam-imam yang lain juga berpendapat seperti itu. Menurut Ibnu Qudamah:
“Apabila ditetapkan wajibnya (membaca basmalah), jika ditinggalkan dengan sengaja maka thaharahnya tidak sah kerana meninggalkan yang wajib dalam thaharah sama seperti meninggalkan niat. Adapun jika meninggalkan dengan tidak disengajakan (terlupa) maka taharahnya tetap sah”. (Lihat: Al-Mughni, 1/84)
3 - Membasuh kedua telapak tangan
Disunnahkan membasuh kedua tangan sebelum memasukkannya ke dalam air atau sebelum berkumur-kumur. Dan dituntut supaya mendahulukan yang sebelah kanan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Dari Aisyah radiyallahu ‘anha, bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyukai mendahulukan yang kanan apabila memakai sandalnya (kasut), ketika berjalan, bersuci dan dalam segala urusan”. (H/R Ahmad, al-Bukhari dan Muslim)
“Dari hadis Abdillah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, beliau telah ditanya tentang wudhu’nya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam maka beliau menuangkan air dengan tangannya, lalu membasuh tangannya tiga kali”. (H/R al-Bukhari, 1/255)
4 - Berkumur-kumur, Istinsyaq, Dan Istinsar
“Baginda berkumur-kumur serta memasukkan air ke hidung (serentak) dengan sebelah tangan dan melakukannya tiga kali”. (H/R al-Bukhari, 1/255)
Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seseorang kamu berwudhu’ maka hendaklah ia memasukkan air ke dalam hidungnya kemudian ia menyisihkan (menghembuskannya) keluar”. (H/R al-Bukhari, 1/229)
Berkumur-kumur (أَلْمَضْمَضَةُ) ialah: Memasukkan air ke dalam mulut sambil beristinsya’ (menggandingkan atau dengan serentak memasukkan air ke dalam hidung). Syariah berkata: Bahawa dalam mulut dan hidung termasuk muka. (Lihat: Nailul Autar. 1/125) Ketika berkumur-kumur hendaklah menggerak-gerakkan air di dalam mulut dengan bersungguh-sungguh.
Istinsyaq (اَلاِسْتِنْشَاقُ) ialah: Memasukkan air ke dalam hidung dengan tangan kanan, menggerakkan air di dalam hidung, membasuh dan kemudian menghembuskan keluar air tersebut. Cara mengeluarkan air dari hidung “istinsyaq (أَْلإسْتِنْشَاقُ)” ialah setelah mengeluarkan air dari mulut (setelah berkumur-kumur).
Menurut Imam an-Nawawi rahimahullah: “Dari hadis ini (hadis Amru bin Yahya), diambil dalil yang menunjukkan bahawa mazhab yang paling benar ialah sunnah diketika berkumur-kumur dengan membasuh (memasukkan air) ke hidung dengan melakukan kedua-duanya serentak pada setiap kali (berwudhu’) dengan tiga kali cedukan (ambilan) air”. (Lihat: Syarah Sahih Muslim, 3/123)
Istinsar (اَلاِسْتِنْثَارُ) ialah: Bersungguh-sungguh menghirup atau memasukkan air ke hidung dengan tangan kanan (jika tidak berpuasa), kemudian menghembuskan (menyemburkan) air tersebut dari hidung dengan tangan kiri:
“Dari Laqit bin Sabirah radhiyallahu ‘anhu berkata: Wahai Rasulullah, khabarkan kepadaku tentang wudhu’! Baginda bersabda: Sempurnakanlah wudhu’ kamu, sela-selalah celah-celah jari-jemari kamu dan basuhlah hidung dengan menyedut air ke hidung melainkan ketika kamu berpuasa (dengan tidak menyedut bersungguh-sungguh)”. (H/R at-Tirmizi, 38. Juga disahihkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani)
5 - Membasuh Muka
Cara membasuh muka ialah bermula dari atas dahi (tempat tumbuhnya rambut) sehingga ke bawah dagu. Dari anak telinga kiri ke anak telinga kanan. Membasuh muka adalah perintah dari Allah ‘Azza wa Jalla. Allah berfirman:
“Dan basuhlah muka kamu”. (Surah al-Ma’idah, 5: 6)
Batas muka yang wajib dibasuh ialah (sebagaimana dijelaskan di atas): Panjangnya dari sebelah atas dimulai dari bahagian yang ditumbuhi rambut (jambul) di kepala (di atas dahi), sehinggalah ke dagu dan janggut. Dan lebarnya bermula dari tepi telinga kanan sehinggalah ke bahagian tepi telinga kiri.
Sebahagian ulama seperti Abu Tsaur dan Ishak menghukum wajib mensela-sela janggut, jika meninggalkannya dengan sengaja maka wajib mengulangi wudhu’ dan solatnya kerana Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sentiasa mensela-sela janggutnya dengan air semasa berwudhu’:
“Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengambil seceduk air lalu dimasukkan di bawah dagunya dan mensela-sela (menyilang-nyilang) air pada janggutnya. Kemudian baginda bersabda: Beginilah yang diperintahkan oleh Tuhanku Azza wa-Jalla”. (H/R Abu Daud, 145. Lihat: al-Jami’u as-Saghir, 4572)
“Dari Uthman, bahawa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mensela-sela air pada janggut baginda”. (H/R at-Tirmizi, 31. Menurut at-Tirmidzi, al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah, hadis ini sahih. Lihat: Tahzibut Tahzib. 5/69)
6 - Membasuh Kedua Tangan Hingga Ke Siku
“Dan (basuhlah) tangan-tanganmu sehingga ke siku-sikumu”. (Surah al-Ma’idah, 5: 6)
“Dari Nu’aim bin al-Mujmir ia berkata: Aku pernah melihat Abu Hurairah berwudhu’ lalu dia menyempurnakan wudhu’nya, kemudian ia membasuh tangan kanannya hingga mengenai lengan atasnya (sikunya), kemudian membasuh tangan kirinya hingga mengenai bahagian lengan kirinya hingga mengenai bahagian lengan atasnya. Di akhir hadis ini Abu Hurairah berkata: Demikianlah aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berwudhu’”. (H/R Muslim, 1/246)
Siku (مرفق) ialah tempat percantuman antara hasta (lengan sebelah bawah) dengan lengan sebelah atas. (Lihat: Kamus Muhith) Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
Menyela Jari-jemari Ketika Membasuh Tangan:
Membasuh sela-sela (celah-celah) jari-jemari sama ada tangan atau kaki adalah perbuatan sunnah yang telah ditinggalkan, ia sangat dituntut kerana telah diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
“Dari Ibnu Abbas, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila kamu berwudhu’, maka sela-selalah (celah-celah) jari-jemari kedua tangan kamu dan kaki kamu”. (H/R Ahmad)
“Dari Laqit bin Sabirah radhiyallahu ‘anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: Sempurnakanlah wudhu’ dan basuhlah sela-sela (celah-celah) jari-jemari kamu”. (H/R Abu Daud No. Sahih menurut al-Albani di dalam Sahih Jami’ as-Sagir, no. 940)
Menurut Imam San’ani (Lihat: Subulus Salam 1/47) rahimahullah:
“Secara zahirnya, lafaz jari-jemari yang dimaksudkan adalah jari-jemari kedua tangan dan kedua kaki. Ianya telah dijelaskan melalui hadis Ibnu Abbas”.
“Hadis ini juga adalah dalil yang menjelaskan kewajipan menggosok celah-celah jari-jemari, sebagaimana yang ditetapkan dari hadis Ibnu Abbas, seperti yang telah kami jelaskan iaitu hadis yang telah diriwayatkan oleh at-Tirmizi, Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim dan dihukum hasan oleh Imam al-Bukhari. Adapun caranya ialah dengan menggosok-gosokkan dengan menggunakan jari kelingking tangan kiri bermula dengan bahagian bawah jari-jemari. Mengenai menggosok dengan tangan kiri maka sebenarnya ia tidak terdapat walaupun satu nash, hanya itulah yang dikatakan oleh Imam al-Ghazali, yang demikian diqiaskan kepada istinja.”
7 - Menyapu (Mengusap) Air Ke Seluruh Kepala
Pendapat yang paling rajih cara menyapu air di kepala ialah menyapu sehingga ke seluruh bahagian kepala iaitu berdasarkan penjelasan Ibnu Qudamah rahimahullah bahawa (Lihat: al-Mughni (di bawah perbahasan wudhu’)):
“Terdapat sebahagian orang yang berpegang dengan pendapat bahawa: Menyapu kepala hanya sebahagian sudah memadai. Mereka berpendapat bahawa huruf (ب) dalam al-Qur’an (بِرُؤُوْسِكُمْ) bermakna sebahagian (التبعيض). Mereka menafsirkan ayat tersebut: Sapulah air pada sebahagian kepalamu. Walaubagaimanapun pendapat kami bahawa huruf (ب) bermakna: Seluruh kepala (الاِلصاق) sebagaimana firman Allah:
فَامْسَحُوْا بِرُؤُوْسِكُمْ
“Dan sapulah kepalamu (bermaksud: keseluruhan kepalamu)”.
Menurut Imam Asy-Syaukani rahimahullah:
Berikut adalah penjelasan daripada hadis yang membuktikan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyapu (mengusap) seluruh kepala baginda ialah:
“Dari Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, bahawasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyapu (mengusap) kepala baginda dengan kedua tangannya maka ditemukan kedua tangannya, digerakkan ke belakang. Dimulakan dari bahagian hadapan kepalanya kemudian terus menyapu dengan kedua tangannya sehingga ke tengkuknya, kemudian dikembalikan semula kedua tangannya kebahagian di mana baginda bermula”. (H/R al-Bukhari 1/251)
8 - Mengusap (Menyapu) Air Pada Kedua Telinga
Setelah menyapu air di kepala kemudian terus sahaja mengusap kedua telinga di bahagian luar dan dalam telinga dengan sisa air di tangan. (Lihat: Sifat Wudhu’ Nabi, m/s. 15, Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin). Menurut Syeikh al-Albani rahimahullah:
Tiada ada keterangan di dalam as-Sunnah yang mewajibkan pengambilan air baru untuk menyapu telinga. Maka memadailah dengan sisa air yang digunakan untuk menyapu kepala, sebagaimana hukumnya harus menyapu air di kepala dengan sisa air dari membasuh tangan.
“Dari Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhu – pada mensifati wudhu’ Nabi – berkata: Kemudian baginda menyapukan air di kepala dan memasukkan kedua jari telunjuknya ke dalam telinga, lalu mengusap bahagian belakang kedua kuping telinga baginda dengan menggunakan kedua ibu jari baginda”. (H/R Abu Daud 135. Disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)
Menurut Imam Ahmad rahimahullah, Ibnu Musayyib, Atha’, Al-Hasan al-Basri, Ibnu Sirin, Sa’ied bin Jubair, An-Nakhaie, At-Thauri dan Malik bahawa kedua telinga termasuk bahagian kepala maka hukum menyapunya sama dengan menyapu kepala. Kerana Rasulullah sallallahu ‘alahi wa-sallam bersabda:
“Dari Ibnu Majah selain dari muka, dari Nabi salallahu ‘alaihi wa-sallam baginda bersabda: Kedua-dua telinga termasuk sebahagian dari kepala”. (H/R Abu Daud. no. 134. Lihat: As-Silsilah As-Sahihah, 1/36)
9 – Sunnah Menyapu Serban Dan Ubun-Ubun (Jambul)
Bagi yang memakai serban, maka memadai menyapu di atas serbannya tanpa ditanggalkan atau menyapu di atas ubun-ubun kemudian di atas serbannya, sebagaimana amalan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
“Dari ‘Amru bin Umaiyah berkata: Aku telah melihat Rasulullah Shallallahi ‘alaihi wa sallam menyapu air ke atas serban dan kedua sepatu baginda”. (H/R al-Bukhari, 1/266)
Menurut Imam Ahmad rahimahullah, bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengusap (menyapu dengan air) serban dan jambulnya, ini dilakukan sejalan (bersamaan) berdasarkan hadis Mughirah bin Syu’bah (Lihat: al-Mughni. 1/310) di bawah ini:
“Dari Mughirah bin Syubah, bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berwudhu’ lalu menyapu ubun-ubun (jambul) dan atas serban serta dua sepatunya”. (H/R Muslim, 1/159)
(Menurut Lisanu al-Arab, kalimah (اَلنَّاصِيَةُ) ialah rambut yang tumbuh di atas dahi. Asal kalimahnya (اَلنُّصَّةُ) yang jamaknya (نُصَصٌ) bermakna jambul)
(Perhatian: Serban tidak sama dengan songkok, kupiah atau topi kerana semua ini wajib ditanggalkan. Tidak boleh menyapu air di atas songkok, kupiah atau topi.)
10 - Menyapu Di Atas Telekong Atau Jilbab
Dibolehkan bagi para wanita mengusap (menyapu) air di atas telekong atau jilbabnya. Kenyataan ini berdasarkan amalan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha yang pernah mengusap (menyapu) air di atas jilbabnya. Perbuatan ini telah di nyatakan oleh Ibnu al-Munzir. (Lihat: Al-Mughni 1/312 dan 1/383-384)
11 - Membasuh Dua Kaki
Diwajibkan membasuh dua kaki sehingga kedua mata kaki atau buku lali. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan (basuhlah) kaki-kaki kamu sehingga kedua mata kaki”. (Surah al-Ma’idah, 5: 6)
“Dari Jarir bin Hazim dari Qatadah dari Anas bin Malik bahawa ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi sedang ia telah berwudhu’, ia meninggalkan punggung (tumit) kakinya sebesar tempat kuku (lalu Nabi bersabda kepadanya): Ulangilah dan baguskanlah (sempurnakan) wudhu’mu”. (H/R Abu Daud, Ahmad dan Durqutni)
Berkata Syariah: “Celaka bagi tumit-tumit dari neraka” bahawa hadis ini menunjukkan atas wajibnya membasuh dua kaki, begitulah pendapat jumhur. (Lihat: Nailul Authar, 1/143)
Begitu juga supaya sentiasa sempurna hendaklah dibasuh celah-celah jari-jemari kaki dan mencela-cela dengan jari yang paling kecil iaitu mencela-cela menggunakan jari kelingking.
12 - Tertib
Berwudhu’ hendaklah mengikut tertib (turutan) seperti mana yang telah ditunjukkan melalui dalil al-Qur’an dan as-Sunnah iaitu dengan:
1 – Membasuh tapak tangan
2 – Berkumur-kumur & Memasukkan air ke dalam hidung
3 – Membasuh muka
4- Membasuh tangan sehingga ke siku
5 – Menyapu (mengusap) kepala dan telinga
6 – Membasuh kaki sehingga ke buku lali.
Kesemua ini adalah berdasarkan firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu ingin mengerjakan solat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sehingga ke siku, dan sapulah kepalamu dan basuhlah kakimu sehingga kedua buku lali”. (al-Ma’idah 5: 6)
Juga berdasarkan ke-umuman hadis Jabir rahiyallahu ‘anhu, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ingin memulakan sai’e antara Safa dan Marwah, Baginda menyebut firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Sesungguhnya Safa dan Marwah itu adalah antara syi’ar-syi’ar Allah”. (al-Baqarah, 2: 158). Kemudian Baginda bersabda: Aku bermula dengan apa yang dimulakan oleh Allah, dan Baginda bermula dengan safa.” (H/R Muslim)
Hadis di atas menunjukkan bahawa Nabi memulakan sai’e di Safa kerana Allah memulakan sebutan “Safa” di dalam surah al-Baqarah, 2: 158.
Maka, begitulah juga dengan ayat wudhu’ dalam surah al-Ma’idah tadi. Kemudiannya lagi, ia turut dijelaskan dengan begitu banyaknya hadis-hadis yang menunjukkan tertib seperti itu.
Kamis, 22 April 2010
Ketinggian Al Qur'an
1. Aku tinggalkan untuk kalian 2 perkara.Kalian tak akan sesat selama berpegang denganya yaituh kitabullah (Al Qur'an) dan As Sunnah (Hr.Muslim)
2. Sesungguhnya Allah dgn kitab ini meninggalkan derajat kaum kaum dan menjatuhkan derajat kaum lain (Hr.Muslim).
3. Apabila seorang ingin berdialog dgn Robbnya maka hendaklah dia membaca Al Quran (Ad-Dailami dan Al-Baihaqi)
4. Orang yg pandai membaca Al Quran Akan bersama malaikat yg mulia lagi berbakti dan yg membaca tetapi sulit dan terbata bata maka dia mendapat 2 pahala (Hr.Bukhari dan Muslim)
5. Sebaik baik kamu ialah mempelajari Al Quran dan mengajarkanya (Hr.Bukhari)
6. Orang yg dalam benaknya tak ada sedikitpun dari Al Quran Ibarat rumah yg bobrok (Mashabih Assunnah)
7. Barangsiapa yg mengulas Al Quran tanpa ilmu pengetahuan maka bersiaplah menduduki neraka (Hr.Abu Dawud).
8. Barangsiapa menguraikan Al Quran dgn akal fikiranya sendiri dan benar maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan (Hr.Ahmad)
9. Barangsiapa yg membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu pahala dan satu pahala di ganjar sepuluh kali lipat (Hr.Tirmidzi).
2. Sesungguhnya Allah dgn kitab ini meninggalkan derajat kaum kaum dan menjatuhkan derajat kaum lain (Hr.Muslim).
3. Apabila seorang ingin berdialog dgn Robbnya maka hendaklah dia membaca Al Quran (Ad-Dailami dan Al-Baihaqi)
4. Orang yg pandai membaca Al Quran Akan bersama malaikat yg mulia lagi berbakti dan yg membaca tetapi sulit dan terbata bata maka dia mendapat 2 pahala (Hr.Bukhari dan Muslim)
5. Sebaik baik kamu ialah mempelajari Al Quran dan mengajarkanya (Hr.Bukhari)
6. Orang yg dalam benaknya tak ada sedikitpun dari Al Quran Ibarat rumah yg bobrok (Mashabih Assunnah)
7. Barangsiapa yg mengulas Al Quran tanpa ilmu pengetahuan maka bersiaplah menduduki neraka (Hr.Abu Dawud).
8. Barangsiapa menguraikan Al Quran dgn akal fikiranya sendiri dan benar maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan (Hr.Ahmad)
9. Barangsiapa yg membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu pahala dan satu pahala di ganjar sepuluh kali lipat (Hr.Tirmidzi).
Muhammad Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam
1. Rasulullah bersabda Aku kesayangan Allah dan tidak congkak.Aku membawa panji pujian pada hari kiamat,dibawahnya Adam Dan yang sesudahnya/dan tak congkak,Aku yang pertama pemberi syafaat dan yg diterima syafaatnya pada hari kiamat.Aku yg pertama menggerakan pintu syurga dan Allah membukanya untukku dan aku dimasukanNYA bersama orang2 yg beriman yg fakir.Dan Akulah paling mulia dari kalangan terdahulu dan terbelakang disisi Allah (Hr.Tirmidzi).
2. Ketika Aisyah radhiallahu anha ditanya tetang ahlak Rasulullah dia menjawab Ahlaknya adalah Al Quran (Hr.Abu Dawud dan Muslim)
3. Aku penutup para Nabi dan tak ada Nabi lagi sesudahku (Hr.Ahmad dan Al Hakim)
4. Aku diberi oleh Allah hikmah2 yg banyak dalam ucapan2 yg sedikit (maksudnya ucapan2 beliau singkat tetapi mengandung makna yg luas dan dalam (Hr.Ahmad).
5. Kepada Rasulullah disarankan agar mengutuk orang2 musyrik tetapi beliau menjawab Aku tak diutus untuk melontarkan kutukan tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai pembawa rahmat (Hr.Bukhari dan Muslim)
6. Anas radhiallah anhu pembantu rumah tangga Nabi berkata aku membantu rumah tangga Nabi 10 tahun lamanya.Dan belum pernah beliau mengeluh Ah terhadapku dan belum pernah beliau menegur kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tak kau lakukan ini (Hr.Ahmad).
7. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam melakukan shalat malam sehingga kedua kakinya bengkak.Beliau jg tak senang bila ada orang berjalan dibelakangnya.Artinya tak sejajar dan berjalan di belakangnya dgn maksud menghormati beliau (Hr.Bukhari dan Muslim).
8. Anas radhiallahu anhu berkata Rasulullah shallallah alaihi wasallam adalah yg paling baik,paling dermawan dan paling berani (Hr.Ahmad)
9. Tiada seorang beriman hingga aku lebih dicintai dari ayahnya,anaknya dan seluruh manusia (Hr.Bukhari)
10. Aku Muhammad dan Ahmad terpuji yg dihormati yg menghimpun manusia,Nabi penyeru taubat dan Nabi penyebar rahmat (Hr.Muslim).
2. Ketika Aisyah radhiallahu anha ditanya tetang ahlak Rasulullah dia menjawab Ahlaknya adalah Al Quran (Hr.Abu Dawud dan Muslim)
3. Aku penutup para Nabi dan tak ada Nabi lagi sesudahku (Hr.Ahmad dan Al Hakim)
4. Aku diberi oleh Allah hikmah2 yg banyak dalam ucapan2 yg sedikit (maksudnya ucapan2 beliau singkat tetapi mengandung makna yg luas dan dalam (Hr.Ahmad).
5. Kepada Rasulullah disarankan agar mengutuk orang2 musyrik tetapi beliau menjawab Aku tak diutus untuk melontarkan kutukan tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai pembawa rahmat (Hr.Bukhari dan Muslim)
6. Anas radhiallah anhu pembantu rumah tangga Nabi berkata aku membantu rumah tangga Nabi 10 tahun lamanya.Dan belum pernah beliau mengeluh Ah terhadapku dan belum pernah beliau menegur kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tak kau lakukan ini (Hr.Ahmad).
7. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam melakukan shalat malam sehingga kedua kakinya bengkak.Beliau jg tak senang bila ada orang berjalan dibelakangnya.Artinya tak sejajar dan berjalan di belakangnya dgn maksud menghormati beliau (Hr.Bukhari dan Muslim).
8. Anas radhiallahu anhu berkata Rasulullah shallallah alaihi wasallam adalah yg paling baik,paling dermawan dan paling berani (Hr.Ahmad)
9. Tiada seorang beriman hingga aku lebih dicintai dari ayahnya,anaknya dan seluruh manusia (Hr.Bukhari)
10. Aku Muhammad dan Ahmad terpuji yg dihormati yg menghimpun manusia,Nabi penyeru taubat dan Nabi penyebar rahmat (Hr.Muslim).
Perihal Nabi dan Rasul
1. Tiada Allah mengutus seorang Nabi kecuali pasti dia pengembala domba.(Hr.Bukhari dan Muslim)
2. Kami para Nabi tidak diwarisi/meninggalkan warisan,apa yg kami tinggalkan adalah sodaqoh/untuk umat.(Hr.Bukhari)
3. Sesungguhnya Allah mengharamkan/mencegah bumi makan jasad Nabi Nabi (Hr.Al Hakim).
4. Sesungguhnya tak layak seorang Nabi memasuki rumah yang mewah (Hr.Ibnu Hibban)
5. Isa bin Maryam melihat sendiri seorang pencuri lalu Isa 'alaihissalam berkata kepada kepada orang itu kamu pencuri tapi pencuri itu menjawab tidak,demi Allah tiada Tuhan selain dia.Isa lalu berkata lagi Aku beriman kepada Allah dan mendustakan mataku sendiri (Hr.Bukhari dan Muslim)
2. Kami para Nabi tidak diwarisi/meninggalkan warisan,apa yg kami tinggalkan adalah sodaqoh/untuk umat.(Hr.Bukhari)
3. Sesungguhnya Allah mengharamkan/mencegah bumi makan jasad Nabi Nabi (Hr.Al Hakim).
4. Sesungguhnya tak layak seorang Nabi memasuki rumah yang mewah (Hr.Ibnu Hibban)
5. Isa bin Maryam melihat sendiri seorang pencuri lalu Isa 'alaihissalam berkata kepada kepada orang itu kamu pencuri tapi pencuri itu menjawab tidak,demi Allah tiada Tuhan selain dia.Isa lalu berkata lagi Aku beriman kepada Allah dan mendustakan mataku sendiri (Hr.Bukhari dan Muslim)
Seruan dan Peringatan Allah Ta'ala
1 Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda bahwa ALLAH 'Azza wajalla berfirman Anak adam mendustakan aku padahal tidak seharusnya berbuat dmikian dia mencaci aku padahal tak seharusnya demikian.Adapun mendustakan aku adalah dgn ucapanya bahwa ALLAH tak akan menghidupkan aku kembali sebagaiman menciptakan aku pada permulaan.Ketahuilah bahwa tak ada ciptaan pertama lebh mudah bagiku daripada mengulangi ciptaan.Adapun caci makinya terhadap Aku dgn berkata ALLAH mempunyai anak.Padahal Aku Maha Esa yg bergantung KepadaKU segala sesuatu.Aku tak beranak dan tiada pula diperanakkan setara dgn Aku.(HR.Bukhari)
2. Dalam hadist Qudsy dijelaskan Bahwa ALLAH Ta'ala berfirman Hai anak adam,kamu tak adil terhadapku Aku mengasihimu dgn kenikmatan2 tetapi kamu membenciku dgn berbuat maksiat2.Kebajikan kuturunkan kepadamu dan kejahatan2 naik kepadaku.Semuanya malaikat yg mulia datang melapor tentang kamu tiap siang dan malam dgn amal2mu yg buruk.Tetapi hai anak Adam Jika kamu mendengar perilakumu dari orang lain dan kamu tak tahu siapa yg disifatkan pasti kamu akan cepat membencinya.(Ar-Rafii Dan Ar-Rabii')
3. Anak Adam mengganggu Aku,mencaci maki jaman/masa,dan Akulah jaman,Aku yg menggilirkan malam dan siang.(Hr.Bukhari dan Muslim).
4. ALLAH Ta'ala berfirman dalam hadist qudsy Kebesaran (kesombongan atau kecongkakan)pakaianku dan keagunanku adalah sarungku.Barangsiapa merampas salah satunya Aku lempar dia ke neraka jahannam.(Hr.Abu Dawud).
5. Berbaik sangka terhadap ALLAH termasuk ibadah yang baik.(Hr.Abu Dawud)
6. ALLAH memiliki 99 nama,seratus kurang satu.Barangsiapa memperhitungkanya dia masuk syurga.(artinya mengenalnya dan melaksnakan hak2 nama2 itu). (Hr.Bukhari).
7. ALLAH 'Azza wajalla hadist qudsy berfirman Hai Anak Adam Aku menyuruhmu tetapi kamu berpaling dan Aku melarangmu tetapi kamu mengindahkan,dan Aku menutup2i kesalahan2mu tetapi kamu tambah berani,dan Aku membiarkanmu dan kamu tak mempedulikan aku.Wahai orang yang esok hari bila diseru oleh manusi akan menyambutnya,dan bila diseru oleh ALLAH dia berpaling dan mengesampingkan,ketahuilah apabila kamu minta Aku memberimu,jika kamu berdoa kepadaKU Aku kabulkan dan apabila kamu sakit Aku sembuhkan dan jika kamu berserah diri Aku memberimu rezki dan Jika kamu mendatangiku Aku menerimamu dan bila kamu bertaubat Aku ampuni Dosa2mu Dan Aku Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih.(Hr.Tirmidzi dan Al Hakim)
2. Dalam hadist Qudsy dijelaskan Bahwa ALLAH Ta'ala berfirman Hai anak adam,kamu tak adil terhadapku Aku mengasihimu dgn kenikmatan2 tetapi kamu membenciku dgn berbuat maksiat2.Kebajikan kuturunkan kepadamu dan kejahatan2 naik kepadaku.Semuanya malaikat yg mulia datang melapor tentang kamu tiap siang dan malam dgn amal2mu yg buruk.Tetapi hai anak Adam Jika kamu mendengar perilakumu dari orang lain dan kamu tak tahu siapa yg disifatkan pasti kamu akan cepat membencinya.(Ar-Rafii Dan Ar-Rabii')
3. Anak Adam mengganggu Aku,mencaci maki jaman/masa,dan Akulah jaman,Aku yg menggilirkan malam dan siang.(Hr.Bukhari dan Muslim).
4. ALLAH Ta'ala berfirman dalam hadist qudsy Kebesaran (kesombongan atau kecongkakan)pakaianku dan keagunanku adalah sarungku.Barangsiapa merampas salah satunya Aku lempar dia ke neraka jahannam.(Hr.Abu Dawud).
5. Berbaik sangka terhadap ALLAH termasuk ibadah yang baik.(Hr.Abu Dawud)
6. ALLAH memiliki 99 nama,seratus kurang satu.Barangsiapa memperhitungkanya dia masuk syurga.(artinya mengenalnya dan melaksnakan hak2 nama2 itu). (Hr.Bukhari).
7. ALLAH 'Azza wajalla hadist qudsy berfirman Hai Anak Adam Aku menyuruhmu tetapi kamu berpaling dan Aku melarangmu tetapi kamu mengindahkan,dan Aku menutup2i kesalahan2mu tetapi kamu tambah berani,dan Aku membiarkanmu dan kamu tak mempedulikan aku.Wahai orang yang esok hari bila diseru oleh manusi akan menyambutnya,dan bila diseru oleh ALLAH dia berpaling dan mengesampingkan,ketahuilah apabila kamu minta Aku memberimu,jika kamu berdoa kepadaKU Aku kabulkan dan apabila kamu sakit Aku sembuhkan dan jika kamu berserah diri Aku memberimu rezki dan Jika kamu mendatangiku Aku menerimamu dan bila kamu bertaubat Aku ampuni Dosa2mu Dan Aku Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih.(Hr.Tirmidzi dan Al Hakim)
Rabu, 21 April 2010
Larangan Mencaci maki Sahabat sahabat Rasulullah.
1. janganlah kamu mencaci maki sahabat sahabatku kalau ada orang yang menafkahkan emas sebesar gunung hud,tidak akan mencapai satu cupak atau separuh dari yang telah mereka infaqkan (Mushabih Assunnah)
2. Sahabat sahabatku ibarat bintang bintang barangsiapa yang menelusuri salah satunya dia mendapat petunjuk jalan (Ad Daarami)
2. Sahabat sahabatku ibarat bintang bintang barangsiapa yang menelusuri salah satunya dia mendapat petunjuk jalan (Ad Daarami)
Langganan:
Postingan (Atom)
