Tampilkan postingan dengan label BAB WUDHU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAB WUDHU. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 April 2012

ISTINJA

Istinja adalah hal yang berhubungan dengan kotoran atau najis, sholat berkaitan erat dengan istinja karena jika istinja tidak benar, wudhunya tidak sah akhirnya sholatnya batal, begitukah?


Kalau demikian berarti istinja sangat penting untuk kita pahami karena kalau istinja salah maka semuanya ikut salah.
Ulama sufi mengatakan “bagi mereka yang tidak mengerti maka air satu lautanpun tidak akan mampu untuk membersihkan diri mereka dari najis“ ini mengambarkan seakan-akan istinja itu sulit, tapi “bagi yang mengerti air satu gelas saja sudah cukup untuk membersihkan“



Selama ini kebanyakan orang mengartikan istinja sebatas membersihkan kotoran fisik yang melekat pada dirinya, mereka mengira kalau sudah mereka bersihkan kotoran tersebut sehingga hilang rupa, warna dan rasanya maka mereka sudah suci padahal mereka lupa kalau yang mereka bersihkan itu tadinya adalah ampas dari apa yang mereka masukan kedalam tubuh mereka.
Disinilah letak masalahnya, bahwa selama ini mereka sibuk dengan istinja akhir (setelah menjadi ampas) tapi istinja awal (makanan yang mereka makan) tidak mereka perhatikan.



Istinja awal adalah ketika kita mensucikan apa–apa yang akan kita makan, mulai dari makanan (rezeki) yang kita cari, apakah sudah suci atau ada hak orang lain yang ikut pada makanan itu, karena apakah mungkin ketika makanan yang kita masukan kedalam diri berasal dari barang yang bukan hak kita atau barang haram kemudian bisa kita sucikan dengan hanya menghilangkan rupa, warna dan rasa saja?
Suatu saat..
Ketika kita sedang menghadapi makanan yang telah dihidangkan, tentunya kita tidak tahu asal muasal makanan itu hingga ada di piring kita seperti, apakah ayam yang kita makan itu di sembelih dengan benar, atau mungkin juga ayam itu mati sebelum disembelih (bangkai), atau lauk pauk lainnya yang ada di piring kita, apakah sudah benar cara mendapatkannya.


Disinilah kita harus mensucikan dulu semuanya sebelum masuk kedalam diri.
Bahwa makanan atau rezeki yang ada dihadapan kita memang kita yang cari tapi semua itu bukan kita yang punya, kita harus minta izin kepada yang punya, apa kita pikir barang yang bernyawa yang ada dihadapan kita itu iklas kita makan jasadnya? Ingatlah bahwa makanan itu semua nantinya yang akan menjaga dan memelihara diri kita, tubuh kita, jiwa kita, supaya sehat dan segar, karena nantinya makanan yang masuk itu akan diproses oleh tubuh kemudian saripati dari makanan tadi diserap oleh jantung untuk kemudian diedarkan keseluruh tubuh dan akan menjadi “ NUR ” yang masuk ke sel sperma kita, ke hati, ke jantung ke darah ke semua organ tubuh kita untuk membentuk karakter kita dan menerangi pikiran kita.


Bagaimana jadinya kalau yang masuk itu bukan hak kita, apa tidak pikirkan efeknya nanti untuk diri dan untuk turunan kita?
Tuhan tidak pernah mendholimi umatnya tapi kitalah yang telah mendholimi diri kita dengan diri kita.

Sisa dari saripati makanan tadilah yang akan menjadi kotoran atau disebut rumput turmain yang kemudian kita buang melalui dubur sebagai najis.
Najis ini bukan tempatnya di bumi walau sekarang bumi telah menerimanya, memang bumi kita ini bergelar mukmin yang sabar, jadi apapun yang kita berikan sekalipun kotor akan diolah untuk kemudian dipersembahkan kepada kita hasil yang baik-baik saja, tapi kita perlu ingat bahwa bumi mengharhagai kita karena kita adalah khalifah yang memerintah di muka bumi, tapi itu kalau amanah sebagai pemerintah (khalifah) bisa kita pertanggung jawabkan, karena pemerintah yang baik itu tidak “mentang-mentang”  tapi bisa mengenal siapa yang di perintahnya, apakah kita sudah mengenal siapa bumi ini? Atau minimal Bertegur sapa dengannya?


Ingatlah, Semua ada hitung-hitunganya, tidak ada yang gratis di muka bumi ini, sudah berapa banyak kotoran yang kita berikan kepada bumi ini semenjak pertama kali kita hadir di bumi? Apakah kita pikir bumi mau menerimanya begitu saja? Dimanakah harus kita tempatkan kotoran ini agar suatu saat kotoran ini tidak menutup jalan kita untuk kembali?

Rabu, 28 April 2010

WUDHU bag.3

8. Karena muntah
dari Ma'dan bin Abu Thalhah dari Abu Darda' r.a bhw Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah muntah sehingga beliau membatalkan puasanya lalu berwudhu lagi.kemudian pada suatu hari.Aku Ma'dan berjumpan dgn Tsaubah r.a. Dimesjid damaskus.lalu kuceritakan hal tersebut kepadanya maka ia berkata benar Abu Darba' itu dan akulah yang menuangkan air wudhunya.(Shahihul Isnad : Tamamul Minnah hal 111, Tirmidzi I:58 no 87, Aunul Ma'bud VII:8 no 2364)

Sumber :
Al wajis ensiklopedi fikih islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah ash shaihah, terj. Ma'ruf Abdul Jalil (pustaka Sunnah) hal.82-101

Jadi kesimpulan tata cara berwudhu adalah
1. Membaca BASMALAH

2.sambil mencuci kedua belah tangan sampai pergelangan tangan dgn bersih

3. Berkumur kumur 3x sambil membersihkan gigi

4. Lalu mencuci lubang hidung 3x

5. Mencuci muka 3x mulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala hingga bawah dagu dan dari telinga kanan ke telinga kiri,sambil niat wudhu

6. Lalu membasuh muka serta mencuci ke dua belah tangan hingga siku

7. Lalu menyapu sebagian Rambut kepala 3x

8. Diteruskan dgn menyapu sebagian rambut kepala terus menyapu kedua belah tangan 3x

9. Terakhi adalah mencuci ke dua belah kaki 3x sampai mata kaki.

WUDHU bag.2

9. Berdoa sesudah wudhu'
Tak seorangpun diantara kalian yg berwudhu dgn sempurna lalu mengucapkan doa ASYHADU ALLA ILAAHA ILALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ABDUHU WA RASUULUH artinya aku bersaksi tiada Tuhan yg patut disembah kecuali Allah semata tiada sekutu bagiNYA dan aku bersaksi bhw Muhammadad hamba dan RasulNYA.Melainkan pasti dibukalah pintu2 syurga yg delapan ia boleh masuk pintu mana saja yg dikehenakinya (Shahih Mukhtasharu Muslim no 143 dan Muslim 1:209 no 234)

Kemudian Imam Tirmidzi menambhkan ALLAHUMMAJ'ALNI MINTA TAWWAABINA WAJ'ANI MINAL MUTATHAHIRIN artinya ya Allah jadikanlah kami termasuk orang2 yg tekun bertaubat dan jadikanlah kami termasuk orang2 yg rajin bersuci (Shahih Tirmidzi no 48 dan Tirmidzi I:38 no 55)

10. Sholat dua raka'at sesudah wudhu
Ustman bin Affan mengatakan Aku pernah melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam berwudhu seperti wudhuku ini seraya berkata barangsiapa yg berwudhu seperti wudhuku ini kemudian berdiri lalu ruku dua rakaat dgn ikhlas dan khusyu diampuni dosa2nya yg telah lalu (Muttafaqun alaih 1:204 no 226 dan Fathul bari I:226 no 164, Aunul Ma'bud I:180 no 106, Nasa'i I:64)

HAL HAL YANG MEMBATALKAN WUDHU
1. Apa saja yg keluar dari kemaluan dan dubur berupa kencing,berak,atau buang angin
Dari Ibnu Abbas r.a. Ia berkata mani,wadi dan madzi termasuk hadast.adapun mani cara bersuci harus dgn mandi besar adapun madi dan madzi maka dia berkata cucilah dzakarmu,kemaluanmu kemudian berwudhulah sebagaiman berwudhu untuk sholat ( Hr.Abu daud no 190 dan Baihaqi I:115)

2. Tidur pulas sampai tak tersisapun sedikit pun kesadaran
dari Ali r.a. Bhw Rasulullah bersabda Mata adalah pengawas dubur2 maka barangsiapa tidur nyenyak hendak berwudhu (Hr.Ibnu Majah no 386,Ibnu Majah I:161 no 477 dan Aunul Ma'bud I:347 no 200)

3. Hilangnya kesadaran akal karna mabuk atau sakit

4. Memegang kemaluan tanpa alas karna dorongan syahwat
barangsiapa yg memegang kemaluannya maka hendaklah berwudhu (Hr.Ibnu Majah no 388,Aunul Ma'bud I:507 no 179, Ibnu Majah I:163 no 483 Aunul Ma'bud I:312 no 180,Nasai I:101, Tirmidzi I:56 No.56 no 85)

5. Makan daging Unta
Berwudhulah disebabkan makan daging unta namun jangan berwudhu disebabkan makan daging kambing (Hr. Ibnu Majah no 401, Ibnu Majah I:166 no 494, Tirmidzi I:54 no 81, Aunul ma'bud I:315 No 182)

HAL HAL YANG KARNANYA DIWAJIBKAN BERWUDHU
1. Sholat

2. Thawaf di Baitullah
Thawaf Di Baitullah adalah shalat hanya saja Allah membolehkan berbicara (shahih Jami'us shaghir no 3954 dan tirmidzi II:217 NO 967)

HAL HAL YANG DI ANJURKAN BERWUDHU
1. Berdzikir kepada Allah

2. hendak tidur
riwayat Al Bara' bin Azib r.a. Berkata Rasulullah bersabda apabila kamu hendak tidur maka berwudhulah seperti wudhumu untuk sholat kemudian berbaringlah diats lambungmu yang kanan lalu ucapkanlah ALLAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA WAWAJJAHTU WAJHI ILAIKA,WA FAWADHTU ZHAHRI IIAIKA,RAGHBATAN WA RAHBATAN ILAIKA,LAA MAL JA-A WA LAA MANJAA MINKA ILAA ILAIKA,ALLAHUMMA AAMANTU BIKITABIKAL LADZII ANDZALTA WANABIYYAKAN LADZII ARSLATA artinya Ya Allah kuserahkan diriku kepadaMU kuhadapkan wajahku kepadaMU kupasrahkan seluruh urusanku kepadaMU kusandarkan punggungku kepadaMU tiada tempat bersandar dan tiada pula tempat berlari dariMU kecuali kepadaMU jua.ya Allah Aku beriman kpd KitabMU yg telah Engkau turunkan dan kpd NabiMU yg telah Engkau utus".
Maka jika kamu meninggal pada malam itu niscaya kamu meninggal dalam keadaan fitrah dan jadikanlah doa ini sbg penutup perkataanmu.(Muttaqun Alaih : Fathul Bari XI:109 no 6311 dan Muslim IV:2081 no 2710)

3. Orang yang Junub bila hendak makan,minum,tidur atau hendak mengulangi jima'
Dari Aisyah ra ia berkata Adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam apabila junub lalu bermaksud hendak makan atau hendak tidur beliau berwudhu seperti wudhu untuk sholat (shahih Muktasharu Muslim no 162,Muslim I:248 no 22 dan 305, Nasa'i I:138 Dan Aunul Ma'bud I:374 no 221).

4. Sebelum mandi wajib atau mandi sunnah
dari Aisyah ra berkata adalah Rasulullah apabila mandi janabat,beliau memulai dgn membasuh ke2 tangan kemudian menuangkan air dgn tangan kanannya ke atas tangan kirinya,lalu membersihkan kemaluanya kemudian berwudhu seperti wudhu untuk sholat.(Mukhtasar Muslim no 155 dan Muslim I:253 no 316).

5. Makan sesuatu yang dipanggang.
Dari Abu Hurairah r.a. Berkata Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berwudhulah kalian karna makan sesuatu yg dipanggang (Mukhtasar Muslim No 147, Muslim I:272 no 352 dan Nasa'i I:105)

6. Untuk setiap kali shalat

7. Pada setiap kali berhadas
dari Buraidah r.a berkatat pada suatu pagi hari Rasulullah memanggil bilal lalu bertanya kepadanya wahai bilal dgn bekal apa engkau telah mendahului aku masuk dalam syurga,karna tadi malam aku masuk syurga tiba2 mendengar suara gemersikmu di hadapanku? Maka jawab bilal ya Rasulullah setiap kali usai mengumandangkan adzan mesti aku shalat dua rakaat dan tiap kali berhadas mesti segera berwudhu lagi.maka Rasulullah bersabda karna itu engkau mendahulukan (Shahihul jami'us Shaghir no 7894 dan Tirmidzi V:282 no 3772)

BERSAMBUNG...

WUDHU bag.1

BERWUDHU
Dari Humran berkata bhw Ustman bin Affan radhiallahu'anhu meminta air wudhu,setelah dibawahkan ia berwudhu,mencuci kedua telapak tangan 3x,kemudian berkumur2 dan memasukan air ke dalam hidungnya,kemudian mencuci wajahnya 3x,lalu membasuh tangan kananya sampai siku 3x kemudian membasuh tangan kirinya 3x seperti itu juga,kemudian mengusap kepalanya lalu membasuh kakinya yang kanan kemudian yg kiri seperti itu juga kemudian mengatakan "saya melihat Rasulullah biasa berwudhu seperti wudhuku ini lalu Rasulullah bersabda barang siapa berwudhu seperti wudhuku ini kemudian berdiri dan ruku dua kali dgn sikap tulus dan ikhlas niscaya diampuni dosa2nya yg telah lalu".Ibnu Syihab berkata adalah ulama2 kita menegaskan ini adalah cara wudhu yang paling sempurna yg seyogyanya dipraktekan tiap orang untuk sholat (Muttafaq'alaih muslim 1:204 no 226, fathul Bahri 1:266 no 164. 'Aunul Ma'bud 1:180 no 106 dan Nasa'i 1:64).

SYARAT SAHNYA WUDHU
1. Niat
"Sesungguhnya segala amal hanyalah bergantung pada niatnya"(Muttafaq'alahi fathul bahri 1:9 no 1. Muslim III:1515 no 1907, Aunul Ma'bud VI 284 no 2186, Tirmidzi III 100 no 169, Ibnu Majah II 1413 no 4227, Nasa'i I 59).
Niat NAWAITUL WUDHUU'A LIRAF'IL HADATSIL ASHGHARI FARDHAL LILLAAHI TA'AALAA artinya Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadast kecil fardhu karna Allah.

2. Basmalah,
"Tidak sah sholat bagi orang yang tidak berwudhu sebelumnya dan tidak sah wudhu bagi orang yang tak menyebut bismillah sebelumnya"(Hadist Hasan:Shahih Ibnu Majah no 320 'Aunul ma'bud I 174 no 101 dan Ibnu Majah I 140 no 399).

3. Muwalah (berturut turut).
Tak diselingi oleh pekerjaan lain,berdarkan hadist Khalid bin Ma'dan bahwa Nabi shallallahu'alaihi wasallam pernah melihat seorang laki2 ditengah mengerjakan sholat sedang punggung kakinya dan sebesar uang dirham yg tak tersentuh air wudh maka beliau menyuruhnya agar mengulangi wudhu dan sholatnya (Shahih Abu Daud No 161 dan 'Aunul Ma'bud I 296 no 173)

HAL HAL YANG FARDHU/NAJIS DALAM WUDHU
1. Membasuh wajah termasuk berkumur2 dan membersihkan hidung.
"apabila seorang diantara kamu berwudhu maka masukanllah air ke dalam hidungnya lalu keluarkanlah"(Shahihul Jami'us Shaghir no 443 Aunul Ma'bud I:234 no 140 dan Nasa'i I:66)

2. Mencuci tangan sampai kedua siku
Syafil menegaskan "selamanya tak dianggap cukup membasuh ke dua tangan kecuali membasuh tangan dan punggungnya secara keseluruhan sampai ke siku2.Jika ada bagian yg tertinggal maka tak sah membasuh tanganya (Dalam Al Umm I:25)

3. Mengusap seluruh kepala dan kedua telinga termasuk bagian kepala

4. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki
hai orang2 yg beriman apabila kamu hendak mengerjakan shalat basuhla mukamu dan tanganmu sampai dgn siku dan usaplah kepalamu dan basuh kakimu sampai dgn kedua mata kakimu (Al Maaidah 6)

5. Menyela-nyelakan air pada jenggot
dari Anas Bin Malik Radhiyallahu anhu bhwa Rasulullah apabila berwudhu mengambil segenggam air lalu memasukanya ke belakang dagu kemudian menyela nyelakan di antara jenggotnya seraya berkata beginilah Robbku 'Azza wa Jalla perintahkan kepadaku(Shahih Irwa'ul Ghalil No 92, Aunul Ma'bud I:243 no 45, dan Baihaqi I:54)

6. Menyela nyelakan air pada jari jemari dan kaki.
Sempurnakanlah wudhu dan sela selakanlah air diantara jari jemarimu dan bersungguh2lah dalam melakukan instinsyaq kecuali kamu dlm keadaan puasa (Shahih Abu Daud no 129 dan 131,dan Aunul Ma'bud I:236 NO 142 dan 144)

HAL HAL YANG DISUNNAHKAN KETIKA BERWUDHU
1. Siwak
"kalaulah sekiranya aku tak khawatir akan memberatkan umatku niscaya kuperintahkan mereka bersiwak tiap kali wudhu (Shahih Jammi No 5316 dan Al Fathur Rabbani I:294 dan 171)

2. Mencuci kedua telapak tangan 3x pada awal wudhu

3. Kumur kumur dan instinsyaq sekali jalan tiga kali
Dari Abdullah bin Zaid radhiallah anhu dia mengajarkan wudhu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dimana dia berkumur2 dan instisyaq dari satu telapa tangan.Dia berbuat demikian sebanyak 3x (Shahih Mukhtashar Muslim no 125 dan Muslim I:210 no 235)

4. Bersungguh2 dalam berkumur2 dan istinsyaq(memasukan air ke dalam hidung) kecuali orang yg berpuasa.

5. Mendahulukan anggota wudhu yg kanan daripada kiri
Aisyah radhiallahu anha mengatakan adalah Rasulullah mencintai mendahulukan anggota yg kanan dalam hal mengenakan alas kaki,menyisir,bersuci dan dalam seluruh ihwahnya (Muttafaqun Alaih:Fathul Bari I:269,Nasa'i I:78)

6. Menggosok
Abdullah bin Zaid mengatakan bhw Nabi pernah dibawakan dua sepertiga mud air kemudian beliau berwudhu maka beliaupun menggosok kedua hastanya (Shahihul Ibnu Khuzaimah I:62 no 118)

7. Membasuh tiga kali,tiga kali
namun ada riwayat lain mengatakan bhw Nabi pernah berwudh satu kali satu kali dan dua kali dua kali (Hasan Shahih: Shahih Abu Daud no 124, Fathul bari I:258 no 158)

8. Tertib
Cara wudhu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangatlah tertib.Ada riwayat yang sah dari Miqdam bin Ma'dikariba ia berkata Bahwa Rasulullah pernah dibawakan air wudhu lalu beliau membasuh kedua tangannya 3x dan membasuh wajahnya 3x,kemudian membasuh ke dua hastanya 3x,kemudian berkumur2 dan mengeluarkan air yg telah dimasukkan ke dalam hidungnya 3x kemudia mengusap kepalanya dan dua telinganya (Shahih Abu Daud no 112 dan Aunul Ma'bud I:211 no 121)

BERSAMBUNG...

Sabtu, 24 April 2010

MENGHAYATI SIFAT WUDHU’ RASULULLAH DENGAN DALIL YANG SAHIH

engertian Wudhu’

Menurut bahasa, kalimah wudhu’ apabila dibaca dengan (أَلْوُضُوْءُ) iaitu dengan didhammahkan huruf wawnya, ia bermaksud perbuatan berwudhu’. Dan apabila difathahkan wawnya, maka (أَلْوَضُوْءُ) ia bermaksud air wudhu’.

Wudhu’ menurut syara ialah: Menggunakan air bersih (suci lagi mensucikan) untuk membasuh anggota-anggota tertentu yang telah ditetapkan oleh syara.

Berwudhu’ untuk solat adalah merupakan perintah dari Allah Azza wa-Jalla sebagaimana firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu akan mendirikan solat maka basuhlah muka kamu dan tangan-tangan kamu hingga siku-siku kamu dan sapulah kepala kamu serta (basuhlah) kaki-kaki kamu sehingga ke kedua mata kaki!”. (Surah al-Ma’idah, 5: 6)

Tidak sah solat seseorang tanpa bersuci atau berwudhu’ terlebih dahulu, sebagaimana perintah dan penjelasan dari hadis-hadis yang sahih:

“Tidak ada solat bagi orang yang tidak berwudhu’.” (H/R Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah)

“Allah tidak menerima solat tanpa bersuci (berwudhu’)”. (H/R Muslim, 1/60)

“Tidak diterima solat seseorang antara kamu jika berhadas sehinggalah dia berwudhu’”. (H/R Bukhari, 1/206. Muslim, No. 225)

“Sesungguhnya aku diperintah agar berwudhu’ apabila aku ingin mendirikan solat”. (H/R Abu Daud, no. 3760. Disahihkan oleh al-Albani, Lihat: as-Sahihah)

Fadhilat Berwudhu’

1 – Sebahagian Dari Iman

Diriwayatkan daripada Abu Malik al-Ash’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Bersuci itu adalah sebahagian daripada iman...” (H/R. Muslim, no. 223)

2 – Wudhu’ Yang Sempurna Menghapuskan Dosa

Pengambilan wudhu’ yang sempurna bukan sahaja menjamin diterimnya solat tetapi ianya juga dapat menghapuskan dosa-dosa selagi tidak melakukan kesyirikan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: Apabila seseorang hamba muslim atau mukmin berwudhu’ maka setelah ia membasuh wajahnya, keluarlah dari wajahnya segala dosa yang telah dilihat oleh kedua matanya melalui air atau bersama titisan air yang terakhir. Ketika membasuh kedua tangannya keluarlah dari kedua tangannya setiap dosa yang telah dilakukan oleh kedua tangannya bersama air atau bersama titisan air yang terakhir. Sewaktu ia membasuh kedua belah kakinya, keluarlah dari kedua kakinya setiap dosa yang dilangkah oleh kedua kakinya bersama air atau bersama air terakhir sehinggalah setelah ia selesai berwudhu’ ia bersih dari dosa-dosanya”. (H/R. Muslim, 1/148)

“Barangsiapa yang berwudhu’ seperti ini (seperti wudhu’nya Rasulullah), diampunkan dosa-dosanya yang telah berlalu dan solat serta perjalanannya ke masjid adalah dipenuhi pahala”. (H/R. Muslim, 3/113)

“Dari Abi Umamah radiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang muslim berwudhu’ maka akan keluar dosa-dosanya dari pendengarannya (telinganya), matanya, tangannya dan dari kedua kakinya. Apabila ia duduk menanti solat, ia duduk dalam keampunan (diampunkan) dosa-dosanya”. (H/R. Ahmad, 5/252. Hadis Hasan: Lihat Jami’ as-Saghir, No. 461)

3 – Wudhu’ Mengangkat Darjat Manusia

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda: Sukakah kamu semua sekiranya aku tunjukkan kepada kalian akan amalan yang dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan dan mengangkat beberapa darjat kalian? Mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah”. Maka Baginda Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun bersabda: “Iaitu (antaranya) menyempurnakan wudhu’ walaupun dalam keadaan yang tidak disenangi (seperti kesejukan dan sebagainya)…” (H/R. Muslim, no: 253)

4 – Wudhu’ Dapat Membuka Pintu Ke Syurga

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Tiada seorang pun dari kalian yang berwudhu’, lalu ia menyampaikan atau meratakan wudhu’nya, kemudian dia mengucapkan: “Asyhadu alla ilaha illallah wa anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuluh”, melainkan dibukalah untuknya pintu syurga yang lapan, dia boleh memasuki dari pintu mana pun yang dia kehendaki.” (H/R. Muslim, no: 234)

5 – Wudhu’ Memberi Cahaya Di Akhirat

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda:

“Perhiasan-perhiasan di syurga itu sampai di tubuh seorang mukmin, bersesuaian dengan anggota yang dicapai oleh wudhu’.” (H/R. Muslim, no: 250)

6 – Wudhu’ Dapat Membuka Ikatan Syaitan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bahawa syaitan mengikut manusia ketika tidur di malam hari, dengan tiga ikatan. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberitahu cara untuk merungkai ikatan tersebut, dalam sabda Baginda Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

“…sekiranya dia (manusia) bangun (dari tidurnya), dan mengingati Allah, bebaslah satu ikatan. Sekiranya dia berwudhu’ pula, bebaslah satu ikatan lagi, dan sekiranya dia bersolat, bebaslah satu ikatan lagi. Maka dia akan menjadi segar dan baik dirinya. Sekiranya dia tidak melakukannya (berzikir, wudhu’, dan bersolat), maka dia akan menjadi buruk dan pemalas”. (H/R. al-Bukhari, no: 1091)

Perkara-perkara Sunnah (Yang Dituntut) Dalam Berwudhu'
1 - Menggosok-gosok Anggota Badan

Sebagaimana hadis Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu:

“Sesungguhnya telah dibawa kepada Nabi Nabi Shallallahu ‘alaihi tiga mud (cupak) air, maka Nabi telah berwudhu’ dan menggosok-gosok kedua tangannya.” (H/R. Ibnu Hibban, no: 1083)

2 – Meluaskan (Melebihkan) Kawasan Basuhan

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya, umatku akan dipanggil pada hari kiamat kelak dalam keadaan putih (pada dahi) dan bercahaya (pada anggota) kerana kesan-kesan wudhuk. Maka barangsiapa yang mampu melebarkan warna putihnya, maka lakukanlah.” (HR. Al-Bukhari, no: 136)

3 – Tidak Membazir (Berlebih-lebihan) Dalam Berwudhu’

“Sesungguhnya orang-orang yang membazir itu adalah saudara syaitan...” (al-Israa’ 17: 27)

“Sesungguhnya akan ada di kalangan umat ini, satu kaum yang berlebih-lebihan dalam bersuci dan berdoa.” (H/R. Abu Daud, no: 96, lihat: Sahih Sunan Abi Daud, 1/21)

Imam al-Bukhari (w. 256H) telah berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menerangkan bahawa wudhu’ difardhukan (basuhannya) sekali, dua kali, dan tiga kali, dan tidak lebih dari tiga kali, dan Ahli Ilmu membenci berlebih-lebihan dalam berwudhu’ dan melebihi (bilangan) yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam”. (Sahih al-Bukhari, 1/62)

4 – Membasuh Dengan Sekali, Dua, dan Tiga Kali

Dibolehkan membasuh anggota wudhu’ dengan sekali basuhan, dua kali dua kali dan tiga kali tiga kali, tetapi tidak dibolehkan membasuh sehingga empat kali. Sepakat ulama bahawa membasuh sekali hukumnya wajib. Sementara membasuh dua kali dan tiga kali adalah sunnah. (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 1/229) Kecuali kepala dan telinga hanya diusap sekali (dan hukumnya bid’ah jika diusap melebihi sekali) usapan. (Lihat: Bidayatul Mujtahid, 1/13, Tarjih Ibnu Rusyd) Yang paling sempurna ialah mencontohi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan melakukan tiga kali (selain kepala dan telinga). Adapun hadis-hadis yang membolehkan satu kali, dua kali dan tiga kali cucian ialah:

“Dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu berkata: Telah berwudhu’ Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam (dengan membasuh) satu kali, satu kali”. (H/R. al-Bukhari, 1/226)

Ada kalanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membasuh anggota wudhu’nya dua kali, dua kali.

“Dari Abdullah bin Zaid radiyallahu ‘anhu berkata: Bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berwudhu’ (membasuh anggota wudhu’) dengan dua kali, dua kali”. (H/R. al-Bukhari, 1/226)

Ada kalanya baginda membasuh anggota wudhu’ dengan tiga kali, tiga kali:

“Baginda membasuh anggota-anggota wuduknya tiga kali”. (H/R. al-Bukhari)

“Dari Uthman bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berwudhu’ (membasuh anggota wudhu’) tiga kali, tiga kali”. (H/R. Muslim)

“Dari Amr bin Syu’aib radiyallahu ‘anhu dari ayahnya dari datuknya, ia berkata: Telah datang seorang Badwi kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menanyakan permasalahan wudhu’ lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memperlihatkannya tiga kali tiga kali dan baginda bersabda: “Itulah bilangan wudhu’, maka barangsiapa menambah dari itu maka ia telah melakukan keburukan, pelanggaran dan kezaliman”.” (H/R. Ahmad)

5 - Berdoa Setelah Berwudhu’

Berdoa sejurus atau selepas berwudhu’ adalah sebagaimana yang diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Dari Umar bin al-Khattab radiyallahu ‘anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: Tiada seorang pun di antara kamu yang berwudhu’ dengan sempurna, kemudian ia mengucapkan:

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ ، وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

pasti (yang membaca doa di atas ini) akan dibukakan baginya kelapan-lapan pintu syurga, dia boleh masuk dari mana yang dia kehendaki”. (H/R. Muslim No. 234)

Pada hadis riwayat Imam at-Tirmizi terdapat penambahan di hujungnya, iaitu:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Ya Allah, jadikanlah aku golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku golongan orang-orang yang membersihkan diri!” (Sahih: Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi)

“Dari Abi Sa’ied al-Khudri radiyallahu ‘anhu berkata: Telah bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: Sesiapa yang berwudhu’ kemudian setelah selesai darinya dia membaca:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ اَللَّهُمَّ وَأَتُوْبُ اِلَيْكَ

Maka (dengan membaca doa ini) dituliskan di tempat tulisan, kemudian terpelihara dalam lambaran, maka tidak akan binasa sehingga ke hari kiamat”. (Sahih: Lihat: al-Jami’, no. 6046)

Tatacara/Sifat Wudhu’ Yang Sunnah (Sahih)

1 - Berniat

Maksud niat ialah menyengajakan atau bersungguh-sungguh untuk mengerjakan sesuatu kerana menunaikan perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“Tempat niat itu di hati, bukan di lisan sebagaimana yang disepakati oleh para imam kaum Muslimin, sama ada pada ibadah, taharah, solat, zakat, puasa, haji, membebaskan hamba, jihad dan selainnya. Jika diucapkan dengan lisannya tetapi berlainan dengan kehendak hatinya maka yang diterima hanya yang diniatkan oleh hatinya bukan lafaznya. Sebaliknya jika diucapkan niat dengan lisannya sedangkan berlainan dengan niat yang di hatinya maka ia tidak diterima menurut kesepakatan Imam-Imam Muslimin”. (Lihat: Majmu’ ar-Rasail al-Kubra, 1/234)

Setiap amal ibadah dituntut agar dimulakan dengan niat sebagaimana sabda Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Setiap amal itu dimulakan dengan niat, sesungguhnya bagi setiap insan mengikut apa yang diniatkan”. (H/R al-Bukhari, 1/9)

2 - Membaca Basmalah (bismillah)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memerintahkan agar membaca basmalah (bismillah) di setiap kali hendak berwudhu’. Baginda bersabda:

“Tiada wudhu’ bagi sesiapa yang tidak menyebut nama Allah di atas wudhu’nya”. (H/R at-Tirmizi, 26. Disahihkan oleh al-Albani dalam al-Jami’ 7444)

Diketika kekurangan air, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah meminta air untuk berwudhu’ maka setelah memperolehi air, baginda memasukkan tangannya ke dalam air tersebut. Baginda memerintahkan para sahabat agar membaca basmalah ketika hendak berwudhu’:

“Semasa Rasulullah meletakkan tangannya di dalam air, baginda bersabda: Berwudhu’lah kamu sekalian dengan nama Allah. Maka aku melihat air keluar dari celah-celah jari-jemari baginda sehinggalah orang yang terakhir (dapat berwudhu’). Thabit bertanya (kepada Anas): Berapa jumlah mereka? Sekitar tujuh puluh orang (jawab Anas)”. (H/R al-Bukhari, 1/236)

Telah dijelaskan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah, bahawa berdasarkan hadis-hadis di atas maka menurut Imam Ahmad rahimahullah membaca bismillah ketika hendak berwudhu’, hendak mandi dan bertayamum adalah wajib hukumnya. Al-Hasan al-Basri dan Ishaq bin Rahawaih serta ramai para imam-imam yang lain juga berpendapat seperti itu. Menurut Ibnu Qudamah:

“Apabila ditetapkan wajibnya (membaca basmalah), jika ditinggalkan dengan sengaja maka thaharahnya tidak sah kerana meninggalkan yang wajib dalam thaharah sama seperti meninggalkan niat. Adapun jika meninggalkan dengan tidak disengajakan (terlupa) maka taharahnya tetap sah”. (Lihat: Al-Mughni, 1/84)

3 - Membasuh kedua telapak tangan

Disunnahkan membasuh kedua tangan sebelum memasukkannya ke dalam air atau sebelum berkumur-kumur. Dan dituntut supaya mendahulukan yang sebelah kanan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Dari Aisyah radiyallahu ‘anha, bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyukai mendahulukan yang kanan apabila memakai sandalnya (kasut), ketika berjalan, bersuci dan dalam segala urusan”. (H/R Ahmad, al-Bukhari dan Muslim)

“Dari hadis Abdillah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, beliau telah ditanya tentang wudhu’nya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam maka beliau menuangkan air dengan tangannya, lalu membasuh tangannya tiga kali”. (H/R al-Bukhari, 1/255)

4 - Berkumur-kumur, Istinsyaq, Dan Istinsar

“Baginda berkumur-kumur serta memasukkan air ke hidung (serentak) dengan sebelah tangan dan melakukannya tiga kali”. (H/R al-Bukhari, 1/255)

Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seseorang kamu berwudhu’ maka hendaklah ia memasukkan air ke dalam hidungnya kemudian ia menyisihkan (menghembuskannya) keluar”. (H/R al-Bukhari, 1/229)

Berkumur-kumur (أَلْمَضْمَضَةُ) ialah: Memasukkan air ke dalam mulut sambil beristinsya’ (menggandingkan atau dengan serentak memasukkan air ke dalam hidung). Syariah berkata: Bahawa dalam mulut dan hidung termasuk muka. (Lihat: Nailul Autar. 1/125) Ketika berkumur-kumur hendaklah menggerak-gerakkan air di dalam mulut dengan bersungguh-sungguh.

Istinsyaq (اَلاِسْتِنْشَاقُ) ialah: Memasukkan air ke dalam hidung dengan tangan kanan, menggerakkan air di dalam hidung, membasuh dan kemudian menghembuskan keluar air tersebut. Cara mengeluarkan air dari hidung “istinsyaq (أَْلإسْتِنْشَاقُ)” ialah setelah mengeluarkan air dari mulut (setelah berkumur-kumur).

Menurut Imam an-Nawawi rahimahullah: “Dari hadis ini (hadis Amru bin Yahya), diambil dalil yang menunjukkan bahawa mazhab yang paling benar ialah sunnah diketika berkumur-kumur dengan membasuh (memasukkan air) ke hidung dengan melakukan kedua-duanya serentak pada setiap kali (berwudhu’) dengan tiga kali cedukan (ambilan) air”. (Lihat: Syarah Sahih Muslim, 3/123)

Istinsar (اَلاِسْتِنْثَارُ) ialah: Bersungguh-sungguh menghirup atau memasukkan air ke hidung dengan tangan kanan (jika tidak berpuasa), kemudian menghembuskan (menyemburkan) air tersebut dari hidung dengan tangan kiri:

“Dari Laqit bin Sabirah radhiyallahu ‘anhu berkata: Wahai Rasulullah, khabarkan kepadaku tentang wudhu’! Baginda bersabda: Sempurnakanlah wudhu’ kamu, sela-selalah celah-celah jari-jemari kamu dan basuhlah hidung dengan menyedut air ke hidung melainkan ketika kamu berpuasa (dengan tidak menyedut bersungguh-sungguh)”. (H/R at-Tirmizi, 38. Juga disahihkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani)

5 - Membasuh Muka

Cara membasuh muka ialah bermula dari atas dahi (tempat tumbuhnya rambut) sehingga ke bawah dagu. Dari anak telinga kiri ke anak telinga kanan. Membasuh muka adalah perintah dari Allah ‘Azza wa Jalla. Allah berfirman:

“Dan basuhlah muka kamu”. (Surah al-Ma’idah, 5: 6)

Batas muka yang wajib dibasuh ialah (sebagaimana dijelaskan di atas): Panjangnya dari sebelah atas dimulai dari bahagian yang ditumbuhi rambut (jambul) di kepala (di atas dahi), sehinggalah ke dagu dan janggut. Dan lebarnya bermula dari tepi telinga kanan sehinggalah ke bahagian tepi telinga kiri.

Sebahagian ulama seperti Abu Tsaur dan Ishak menghukum wajib mensela-sela janggut, jika meninggalkannya dengan sengaja maka wajib mengulangi wudhu’ dan solatnya kerana Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sentiasa mensela-sela janggutnya dengan air semasa berwudhu’:

“Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengambil seceduk air lalu dimasukkan di bawah dagunya dan mensela-sela (menyilang-nyilang) air pada janggutnya. Kemudian baginda bersabda: Beginilah yang diperintahkan oleh Tuhanku Azza wa-Jalla”. (H/R Abu Daud, 145. Lihat: al-Jami’u as-Saghir, 4572)

“Dari Uthman, bahawa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mensela-sela air pada janggut baginda”. (H/R at-Tirmizi, 31. Menurut at-Tirmidzi, al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah, hadis ini sahih. Lihat: Tahzibut Tahzib. 5/69)

6 - Membasuh Kedua Tangan Hingga Ke Siku

“Dan (basuhlah) tangan-tanganmu sehingga ke siku-sikumu”. (Surah al-Ma’idah, 5: 6)

“Dari Nu’aim bin al-Mujmir ia berkata: Aku pernah melihat Abu Hurairah berwudhu’ lalu dia menyempurnakan wudhu’nya, kemudian ia membasuh tangan kanannya hingga mengenai lengan atasnya (sikunya), kemudian membasuh tangan kirinya hingga mengenai bahagian lengan kirinya hingga mengenai bahagian lengan atasnya. Di akhir hadis ini Abu Hurairah berkata: Demikianlah aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berwudhu’”. (H/R Muslim, 1/246)

Siku (مرفق) ialah tempat percantuman antara hasta (lengan sebelah bawah) dengan lengan sebelah atas. (Lihat: Kamus Muhith) Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

Menyela Jari-jemari Ketika Membasuh Tangan:

Membasuh sela-sela (celah-celah) jari-jemari sama ada tangan atau kaki adalah perbuatan sunnah yang telah ditinggalkan, ia sangat dituntut kerana telah diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Dari Ibnu Abbas, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila kamu berwudhu’, maka sela-selalah (celah-celah) jari-jemari kedua tangan kamu dan kaki kamu”. (H/R Ahmad)

“Dari Laqit bin Sabirah radhiyallahu ‘anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: Sempurnakanlah wudhu’ dan basuhlah sela-sela (celah-celah) jari-jemari kamu”. (H/R Abu Daud No. Sahih menurut al-Albani di dalam Sahih Jami’ as-Sagir, no. 940)

Menurut Imam San’ani (Lihat: Subulus Salam 1/47) rahimahullah:

“Secara zahirnya, lafaz jari-jemari yang dimaksudkan adalah jari-jemari kedua tangan dan kedua kaki. Ianya telah dijelaskan melalui hadis Ibnu Abbas”.

“Hadis ini juga adalah dalil yang menjelaskan kewajipan menggosok celah-celah jari-jemari, sebagaimana yang ditetapkan dari hadis Ibnu Abbas, seperti yang telah kami jelaskan iaitu hadis yang telah diriwayatkan oleh at-Tirmizi, Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim dan dihukum hasan oleh Imam al-Bukhari. Adapun caranya ialah dengan menggosok-gosokkan dengan menggunakan jari kelingking tangan kiri bermula dengan bahagian bawah jari-jemari. Mengenai menggosok dengan tangan kiri maka sebenarnya ia tidak terdapat walaupun satu nash, hanya itulah yang dikatakan oleh Imam al-Ghazali, yang demikian diqiaskan kepada istinja.”

7 - Menyapu (Mengusap) Air Ke Seluruh Kepala

Pendapat yang paling rajih cara menyapu air di kepala ialah menyapu sehingga ke seluruh bahagian kepala iaitu berdasarkan penjelasan Ibnu Qudamah rahimahullah bahawa (Lihat: al-Mughni (di bawah perbahasan wudhu’)):

“Terdapat sebahagian orang yang berpegang dengan pendapat bahawa: Menyapu kepala hanya sebahagian sudah memadai. Mereka berpendapat bahawa huruf (ب) dalam al-Qur’an (بِرُؤُوْسِكُمْ) bermakna sebahagian (التبعيض). Mereka menafsirkan ayat tersebut: Sapulah air pada sebahagian kepalamu. Walaubagaimanapun pendapat kami bahawa huruf (ب) bermakna: Seluruh kepala (الاِلصاق) sebagaimana firman Allah:

فَامْسَحُوْا بِرُؤُوْسِكُمْ

“Dan sapulah kepalamu (bermaksud: keseluruhan kepalamu)”.

Menurut Imam Asy-Syaukani rahimahullah:

Berikut adalah penjelasan daripada hadis yang membuktikan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyapu (mengusap) seluruh kepala baginda ialah:

“Dari Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, bahawasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyapu (mengusap) kepala baginda dengan kedua tangannya maka ditemukan kedua tangannya, digerakkan ke belakang. Dimulakan dari bahagian hadapan kepalanya kemudian terus menyapu dengan kedua tangannya sehingga ke tengkuknya, kemudian dikembalikan semula kedua tangannya kebahagian di mana baginda bermula”. (H/R al-Bukhari 1/251)

8 - Mengusap (Menyapu) Air Pada Kedua Telinga

Setelah menyapu air di kepala kemudian terus sahaja mengusap kedua telinga di bahagian luar dan dalam telinga dengan sisa air di tangan. (Lihat: Sifat Wudhu’ Nabi, m/s. 15, Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin). Menurut Syeikh al-Albani rahimahullah:

Tiada ada keterangan di dalam as-Sunnah yang mewajibkan pengambilan air baru untuk menyapu telinga. Maka memadailah dengan sisa air yang digunakan untuk menyapu kepala, sebagaimana hukumnya harus menyapu air di kepala dengan sisa air dari membasuh tangan.

“Dari Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhu – pada mensifati wudhu’ Nabi – berkata: Kemudian baginda menyapukan air di kepala dan memasukkan kedua jari telunjuknya ke dalam telinga, lalu mengusap bahagian belakang kedua kuping telinga baginda dengan menggunakan kedua ibu jari baginda”. (H/R Abu Daud 135. Disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

Menurut Imam Ahmad rahimahullah, Ibnu Musayyib, Atha’, Al-Hasan al-Basri, Ibnu Sirin, Sa’ied bin Jubair, An-Nakhaie, At-Thauri dan Malik bahawa kedua telinga termasuk bahagian kepala maka hukum menyapunya sama dengan menyapu kepala. Kerana Rasulullah sallallahu ‘alahi wa-sallam bersabda:

“Dari Ibnu Majah selain dari muka, dari Nabi salallahu ‘alaihi wa-sallam baginda bersabda: Kedua-dua telinga termasuk sebahagian dari kepala”. (H/R Abu Daud. no. 134. Lihat: As-Silsilah As-Sahihah, 1/36)

9 – Sunnah Menyapu Serban Dan Ubun-Ubun (Jambul)

Bagi yang memakai serban, maka memadai menyapu di atas serbannya tanpa ditanggalkan atau menyapu di atas ubun-ubun kemudian di atas serbannya, sebagaimana amalan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Dari ‘Amru bin Umaiyah berkata: Aku telah melihat Rasulullah Shallallahi ‘alaihi wa sallam menyapu air ke atas serban dan kedua sepatu baginda”. (H/R al-Bukhari, 1/266)

Menurut Imam Ahmad rahimahullah, bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengusap (menyapu dengan air) serban dan jambulnya, ini dilakukan sejalan (bersamaan) berdasarkan hadis Mughirah bin Syu’bah (Lihat: al-Mughni. 1/310) di bawah ini:

“Dari Mughirah bin Syubah, bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berwudhu’ lalu menyapu ubun-ubun (jambul) dan atas serban serta dua sepatunya”. (H/R Muslim, 1/159)

(Menurut Lisanu al-Arab, kalimah (اَلنَّاصِيَةُ) ialah rambut yang tumbuh di atas dahi. Asal kalimahnya (اَلنُّصَّةُ) yang jamaknya (نُصَصٌ) bermakna jambul)

(Perhatian: Serban tidak sama dengan songkok, kupiah atau topi kerana semua ini wajib ditanggalkan. Tidak boleh menyapu air di atas songkok, kupiah atau topi.)

10 - Menyapu Di Atas Telekong Atau Jilbab

Dibolehkan bagi para wanita mengusap (menyapu) air di atas telekong atau jilbabnya. Kenyataan ini berdasarkan amalan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha yang pernah mengusap (menyapu) air di atas jilbabnya. Perbuatan ini telah di nyatakan oleh Ibnu al-Munzir. (Lihat: Al-Mughni 1/312 dan 1/383-384)

11 - Membasuh Dua Kaki

Diwajibkan membasuh dua kaki sehingga kedua mata kaki atau buku lali. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan (basuhlah) kaki-kaki kamu sehingga kedua mata kaki”. (Surah al-Ma’idah, 5: 6)

“Dari Jarir bin Hazim dari Qatadah dari Anas bin Malik bahawa ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi sedang ia telah berwudhu’, ia meninggalkan punggung (tumit) kakinya sebesar tempat kuku (lalu Nabi bersabda kepadanya): Ulangilah dan baguskanlah (sempurnakan) wudhu’mu”. (H/R Abu Daud, Ahmad dan Durqutni)

Berkata Syariah: “Celaka bagi tumit-tumit dari neraka” bahawa hadis ini menunjukkan atas wajibnya membasuh dua kaki, begitulah pendapat jumhur. (Lihat: Nailul Authar, 1/143)

Begitu juga supaya sentiasa sempurna hendaklah dibasuh celah-celah jari-jemari kaki dan mencela-cela dengan jari yang paling kecil iaitu mencela-cela menggunakan jari kelingking.

12 - Tertib

Berwudhu’ hendaklah mengikut tertib (turutan) seperti mana yang telah ditunjukkan melalui dalil al-Qur’an dan as-Sunnah iaitu dengan:

1 – Membasuh tapak tangan
2 – Berkumur-kumur & Memasukkan air ke dalam hidung
3 – Membasuh muka
4- Membasuh tangan sehingga ke siku
5 – Menyapu (mengusap) kepala dan telinga
6 – Membasuh kaki sehingga ke buku lali.

Kesemua ini adalah berdasarkan firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu ingin mengerjakan solat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sehingga ke siku, dan sapulah kepalamu dan basuhlah kakimu sehingga kedua buku lali”. (al-Ma’idah 5: 6)

Juga berdasarkan ke-umuman hadis Jabir rahiyallahu ‘anhu, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ingin memulakan sai’e antara Safa dan Marwah, Baginda menyebut firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Sesungguhnya Safa dan Marwah itu adalah antara syi’ar-syi’ar Allah”. (al-Baqarah, 2: 158). Kemudian Baginda bersabda: Aku bermula dengan apa yang dimulakan oleh Allah, dan Baginda bermula dengan safa.” (H/R Muslim)

Hadis di atas menunjukkan bahawa Nabi memulakan sai’e di Safa kerana Allah memulakan sebutan “Safa” di dalam surah al-Baqarah, 2: 158.

Maka, begitulah juga dengan ayat wudhu’ dalam surah al-Ma’idah tadi. Kemudiannya lagi, ia turut dijelaskan dengan begitu banyaknya hadis-hadis yang menunjukkan tertib seperti itu.